Namun begitu, situasi tak kalah memanas di lapangan. Kunjungan Wakil Presiden JD Vance ke pangkalan militer AS di sana justru memicu ketegangan lebih lanjut dengan Denmark dan pemerintah Greenland. Apalagi setelah Vance berkomentar bahwa Denmark 'tidak melakukan pekerjaan yang baik' untuk rakyat Greenland. Komentar itu menuai kritik tajam.
Di sisi lain, respons dari Greenland datang dengan nada yang tak kalah keras. Perdana Menteri barunya, Jens-Frederik Nielsen, langsung angkat bicara. Dia menegaskan bahwa impian Trump mustahil terwujud.
Pernyataan itu dia sampaikan lewat Facebook pada hari Minggu. Intinya jelas: masa depan Greenland bukan untuk diperdagangkan.
Jadi, di satu sisi ada ambisi besar dari Gedung Putih. Di sisi lain, ada penolakan yang sama besarnya dari Nuuk. Kedua pihak tampaknya sedang bersiap, dan jalan buntu ini belum terlihat ujungnya.
Artikel Terkait
F1 Jepang dan MotoGP AS Ramaikan Akhir Pekan, Veda Ega Pratama Turun di Moto3
Ekonom: Prabowo Hidupkan Kembali Soemitronomics untuk Wujudkan Ekonomi Pancasila
Maguire: Fondasi Amorim Jadi Kunci Kebangkitan Manchester United
IOC Tetapkan Skrining Gen SRY sebagai Syarat Kelayakan Atlet Perempuan di Olimpiade