Di Jember, Jawa Timur, sebuah kasus mengerikan mencoreng berita pagi: seorang ibu muda berinisial RH, baru berusia 19 tahun, diduga memutilasi bayinya sendiri. Peristiwa ini langsung menyedot perhatian publik dan tentu saja, para wakil rakyat.
Wakil Ketua Komisi VIII DPR, Singgih Januratmoko, tak bisa tinggal diam. Baginya, ini lebih dari sekadar berita kriminal. Ini adalah alarm dering keras yang memekakkan telinga tentang betapa rapuhnya sistem perlindungan untuk para ibu dan anak di negeri ini. Khususnya bagi remaja dan perempuan muda.
"Ini adalah tragedi kemanusiaan yang sangat memilukan," ujar Singgih, Rabu (24/12/2025).
Dia melanjutkan dengan nada berat, "Bayi adalah makhluk yang sama sekali tidak berdaya. Negara dan masyarakat wajib hadir, memberikan perlindungan maksimal baik sebelum maupun sesudah kelahiran."
Singgih menekankan, kita jangan terjebak melihat ini cuma sebagai tindak pidana belaka. Ada lapisan masalah yang jauh lebih dalam dan pelik di baliknya. Persoalan sosial, tekanan psikologis, dan yang paling kentara: kurangnya pendampingan bagi ibu muda yang menghadapi kehamilan tak direncanakan. Usia pelaku yang masih belia, menurutnya, adalah bukti nyata adanya celah besar dalam edukasi kesehatan reproduksi dan dukungan dari lingkungan terdekat.
"Banyak kasus serupa berakar dari rasa takut, tekanan sosial, dan ketidaksiapan mental," katanya.
Lalu dia menambahkan, "Ini jadi pekerjaan rumah bersama. Mulai dari keluarga, masyarakat, hingga negara. Tujuannya satu: agar tidak ada lagi ibu yang menghadapi kehamilan dan persalinan dalam kondisi terisolasi dan sendirian."
Di sisi lain, Singgih memberi apresiasi pada kinerja polisi yang cepat mengungkap kasus ini. Namun begitu, dia punya catatan penting. Proses hukum yang tegas dan adil memang harus ditegakkan. Tapi jangan lupakan aspek kemanusiaannya.
"Negara juga perlu memastikan adanya pendampingan kesehatan dan psikologis untuk pelaku," tegasnya, mengingatkan bahwa RH adalah seorang perempuan yang baru saja melahirkan.
Peringatannya jelas: jangan sampai tragedi seperti ini terulang lagi. Seruan itu menggema, menunggu tindakan nyata.
Artikel Terkait
Wamen Ekraf: Jurnalisme Berintegritas Fondasi Demokrasi dan Penggerak Perempuan
Bocah 6 Tahun Kritis Tertembak Senapan Angin Saat Ayah Bersihkan Senjata
Motul Indonesia Luncurkan Pelumas Baru Berstandar API SQ di IIMS 2026
Jakarta Gelar Taste of Australia, Chef Callum Hann Pererat Hubungan Kuliner