Dalam kesempatan itu, Menteri Raja Juli berusaha menjelaskan maksud di balik aksi penumbangan.
"Kalau secara simbolik ada pemusnahan sawit, bukan berarti ada permusuhan pada masyarakat," ujarnya.
"Tapi kita kembalikan Taman Nasional pada fungsinya sebagai kawasan konservasi."
Ia juga menyampaikan apresiasi yang mendalam pada warga Bagan Limau. Menurutnya, kesediaan masyarakat melepas lahan itu adalah bentuk rekonsiliasi yang brilian, sebuah solusi yang menguntungkan semua pihak.
"Apa yang terjadi hari ini bisa jadi teladan untuk daerah lain," tambah Raja Juli.
Pesan intinya tetap sama: ini bukan tentang konflik, melainkan tentang mengembalikan sesuatu pada tempatnya. Tesso Nilo harus kembali menjadi hutan konservasi, sebagaimana mestinya.
Artikel Terkait
Perawat Lansia di Jepang Dapat Tanda Tangan Presiden Prabowo di Bandara Haneda
Biaya Operasional Pelayaran Global Membengkak Rp5,6 Triliun per Hari Akibat Ketegangan Selat Hormuz
Paus Leo XIV Tegaskan Tuhan Menolak Doa Para Pencetus Perang
Menteri PU Perintahkan Percepatan Saluran Tersier untuk Optimalkan Jaringan Irigasi Air Tanah di Boyolali