"Jadi ini bagian juga dari ekonomi budaya, karena budaya itu termasuk di dalam objek pemajuan kebudayaan itu termasuk juga pangan lokal, karena pangan lokal ini ada ekspresi budaya di dalamnya tidak bisa dipisahkan dari cultural expression atau ekspresi budaya," imbuh Fadli.
Festival yang mengusung tema 'Tidak Ada yang Tahu Semua Tempe' ini memang ramai. Diselenggarakan di hari bebas kendaraan bermotor, suasana jadi semakin meriah dengan beragam stan edukasi, ekonomi kreatif, hingga pertunjukan seni. Masyarakat terlihat antusias. Mereka diajak merayakan tempe dalam segala dimensinya: mulai dari tradisi, inovasi, hingga gaya hidup berkelanjutan.
Puncak acaranya? Fun Run Budaya Tempe. Lari pagi ini jadi simbol dukungan publik untuk pengusulan ke UNESCO. Setiap langkah peserta bukan cuma untuk sehat, tapi juga bentuk solidaritas. Sebuah kebanggaan kolektif bahwa warisan sederhana ini layak diakui dunia.
Pada akhirnya, semua ini menegaskan satu hal: butuh kolaborasi. Pemerintah, komunitas, akademisi, pelaku usaha, dan kita semua harus bersinergi. Hanya dengan cara itulah Budaya Tempe bisa tetap hidup, berkembang, dan menjawab tantangan zaman. Ia akan tetap menjadi identitas yang membanggakan, sekaligus pengetahuan tradisional yang punya nilai global.
Artikel Terkait
Pendiri OnlyFans Leonid Radvinsky Meninggal Dunia Setelah Berjuang Melawan Kanker
Netanyahu dan Trump Bahas Kesepakatan Baru Usai Operasi Militer di Iran
Arsenal Kehilangan Lima Pemain Inti untuk Jeda Internasional Akibat Cedera
Revisi UU Pemda 2026 Dinanti Jadi Momentum Perbaiki Hubungan Pusat-Daerah