"Mungkin dia merasa akan dipanggil Tuhan," kenang Prabowo.
Kata-kata sang ayah waktu itu singkat tapi penuh makna: 'Prabowo, kalau suatu saat kamu berada dalam keadaan bingung dan ragu-ragu, ingat, selalu berpihak kepada rakyatmu'.
"Itu pesan beliau, dan itu saya pegang," ujarnya.
Prinsip itulah yang kini ia terapkan, termasuk saat mengambil keputusan sulit. Ketika dihadapkan pada beberapa pilihan, pertanyaan utamanya selalu sama: mana yang paling menguntungkan rakyat kecil? "Kalau yang A jalankan, kalau B ya B, kalau C ya C." Logikanya, mereka yang sudah kuat pasti bisa bertahan. Tugas pemimpin justru membela yang paling lemah, memberdayakan mereka.
Dari sinilah keyakinannya tumbuh. Prabowo yakin Indonesia sebenarnya mampu menghapuskan kemiskinan. Syaratnya satu: praktik-praktik curang harus dihentikan total.
"Kita mampu, saya sangat yakin," serunya.
Tapi tekad itu harus dibarengi dengan tindakan nyata. Penyelundupan, penyelewengan, korupsi, dan segala bentuk tipu-menipu harus diberantas. Ia menyindir kebiasaan 'mark-up' anggaran yang gila-gilaan. "Sama dengan mencuri, sudah-sudah sekali," tegusnya. Jangan hanya karena berdasi rapi dan pintar merangkai kata, lalu ada yang berani mengakali pemerintah dan menipu rakyat. Pesannya jelas: praktik semacam itu harus berakhir.
Artikel Terkait
Korlantas Siapkan Rekayasa One Way di Tol Trans Jawa untuk Antisipasi Puncak Arus Balik
Transjakarta SH2 Catat 19.000 Penumpang Saat Puncak Arus Mudik Lebaran 2026
John Herdman Awali Era Baru Timnas Indonesia dengan Target Jangka Panjang Piala Dunia 2030
Batas Pelaporan SPT Tahunan Diperpanjang hingga 30 April 2026