Lalu dia menambahkan dengan nada lebih cair, "Jangan slogan itu cuma untuk senior saja. Giliran adik-adik yang jadi ketum, malah merasa jabatannya kekal. Nggak boleh, ya nggak boleh lah."
Di sinilah poin utamanya. Di hadapan para senior itu, Bahlil menegaskan bahwa yang mengelola partai sekarang adalah generasi baru. Dia mengajak semua pihak fokus dan memberi ruang.
Untuk menggambarkan dinamika kepemimpinan, Bahlil punya analogi yang cukup nyeleneh: sopir angkot. Menurutnya, partai harus berani berubah, dan soal waktu tak ada yang bisa menduga.
Dan dia menutup dengan kalimat yang terdengar seperti tantangan sekaligus pengakuan. "Saya cuma menyampaikan. Tapi kalau mau diuji, silakan. Kami ini nothing to lose soalnya," pungkas Bahlil.
Artikel Terkait
Naila, Gadis Makassar yang Pernah Haru-Biru Prabowo, Kini Resmi Miliki Rumah Layak Huni
Kardinal Suharyo Sampaikan Selamat Idulfitri kepada Sahabat, Menag Nasaruddin Umar
Arus Puncak Padat, Polisi Terapkan Sistem Satu Arah di Hari Kedua Lebaran
Mantan Suami Siri Ditangkap di Tol Tangerang-Merak Diduga Bunuh Perempuan di Bambu Apus