Untungnya, dia sempat berpegangan pada sebuah besi di dekat sungai. Nah, di momen kritis itulah Gus Tu muncul dan menariknya ke tempat aman.
Ketika kami jumpa, I Nyoman Payu terlihat sedang duduk termenung di meja makan. Tangannya memegangi siku kiri yang dibalut perban. Luka di siku dan kaki kirinya harus dijahit. Suaranya pelan saat mengenang kejadian mengerikan itu.
"Saya hanyut terbawa, ikut tembok yang jebol itu. Terpelanting ke depan," katanya. "Waktu itu saya sadar, tapi sudah berpikir ini mungkin akhir."
Rasanya lega sekali melihatnya bisa bercerita sekarang. Aksi Gus Tu, meski mungkin dianggap hal biasa olehnya, telah mengubah segalanya bagi seorang kakek dan keluarganya.
Artikel Terkait
Wapres Gibran Salat Id di Istiqlal, Pengamanan Diperketat
Villarreal Hajar Real Sociedad 3-1, Melonjak ke Posisi Tiga La Liga
DKI Jakarta Terapkan Tarif Transportasi Umum Rp 1 pada Hari Raya Idul Fitri 2026
Idul Fitri Momentum Perkuat Solidaritas dan Seruan Keadilan Sistemik