Rasa was-was tak kunjung hilang bagi warga di sepanjang Sungai Muaro Pisang. Letaknya di Jorong Pasar Maninjau, Kabupaten Agam, Sumatera Barat itu, kini lebih mirip tempat tinggal sementara. Ancaman banjir bandang susulan selalu menghantui, membuat mereka enggan berlama-lama di dalam rumah sendiri.
“Saya ketakutan tinggal di rumah,” ucap Wita, seorang warga, suaranya terdengar lelah. Ia menjelaskan, banjir susulan bisa datang kapan saja, tak peduli hujan deras atau cuaca sedang terik sekalipun.
Sejak bencana pertama menerjang, tidur nyenyak jadi barang langka. Hampir setiap malam, mereka terjaga oleh gemuruh yang terus mengaum dari arah hulu sungai. Suara itu datang hampir setiap saat, mengintai.
Keadaan makin parah setelah tanah longsor menerjang jalan Kelok 25 akhir Desember lalu. Peristiwa itu jadi titik balik. Warga yang rumahnya berjejer di tepi aliran sungai memilih mengungsi seluruhnya. Mereka berpencar ke musala, rumah kerabat, atau tempat aman lainnya.
“Di musala tempat saya mengungsi, ada 44 kepala keluarga dengan jumlah ratusan orang mengungsi di sini,” kata Wita. Jumlah itu melonjak drastis dari sebelumnya yang hanya 25 KK.
Artikel Terkait
KPK Periksa Tujuh ASN Pekalongan Terkait Dugaan Intervensi Bupati Nonaktif
KPK Tangkap 16 Orang dalam OTT, Termasuk Bupati Tulungagung
Menteri PU Akan Temui Kejati DKI Bahas Penggeledahan Kantor Terkait Kasus Korupsi
Kemenkeu Pertimbangkan Tukar Guling Geo Dipa dengan PNM