Di sisi lain, pergerakan orang tak bisa dihindari. Periode Nataru tahun ini diprediksi panjang, sekitar dua pekan dari 20 Desember 2025 hingga 4 Januari 2026. Puncak arus mudik diperkirakan terjadi dua kali: tanggal 20 dan 24 Desember. Sementara arus balik akan memuncak pada 28 Desember dan 4 Januari. Bayangkan saja, jutaan orang bergerak sementara ancaman cuaca ekstrem masih mengintai di atas kepala.
Memang, pengamanan Nataru sudah jadi agenda rutin tahunan. Namun begitu, Pratikno menekankan bahwa skenario tahun ini butuh penyesuaian serius. Kesiapan yang ada harus ditingkatkan secara signifikan, dengan kewaspadaan ekstra terhadap potensi bencana.
"Pengamanan Nataru selama ini sudah kita lakukan dengan baik harus tetap dijalankan, tetapi tahun ini perlu ditingkatkan," jelasnya.
"Bukan hanya menjaga keamanan dan ketertiban, tetapi juga kesiapsiagaan terhadap bencana, cuaca ekstrem, dan kondisi darurat lainnya," imbuhnya.
Fokusnya pun meluas. Bukan cuma di daerah yang sudah luluh lantak, tapi juga wilayah-wilayah lain yang berisiko tinggi. Data dari BMKG menyoroti sejumlah titik seperti Bengkulu, Lampung, Banten, hingga Jawa, Bali, dan Nusa Tenggara. Bahkan wilayah perairan juga masuk dalam daftar pantauan.
Jadi, semuanya harus siaga. Momen berkumpul dan bersukacita tahun ini, sayangnya, bakal diwarnai oleh langkah-langkah antisipasi yang lebih ketat. Itulah tantangan nyata Nataru 'plus-plus' yang sedang dihadapi.
Artikel Terkait
Anak Terluka Diduga Akibat Peluru Nyasar, Latihan Militer Korsel Dihentikan Sementara
Lonjakan 247 Persen Pemudik Laut di Pelabuhan Tenau Kupang
Transjakarta Perpanjang Jam Operasi Bus Wisata Selama Libur Lebaran 2026
Kemenag Ingatkan Etika Berbuka Saat Mudik dan Anjurkan Manfaatkan Aplikasi Pusaka