Keluarga pun panik. Bayi itu segera dibawa ke rumah sakit, tapi nasib berkata lain. Dalam perjalanan, nyawanya tak tertolong. Pendarahan di kepala telah merenggut segala-galanya. Menyadari beratnya kejadian, keluarga akhirnya melaporkan peristiwa ini ke polisi.
Di sisi lain, dari pendalaman polisi, terungkap alasan lain yang memperkeruh suasana. Rumah mereka saat itu gelap gulita karena kehabisan token listrik. IS mengaku, kondisi itulah yang membuat anaknya terus menangis tanpa henti.
"Menurut keterangan IS, korban menangis terus menerus tanpa henti dikarenakan kondisi rumah gelap. IS tidak mengetahui nomor token listrik TKP yang menyebabkan listrik mati,"
ungkap Bambang.
Rinciannya lebih tragis. Bantingan pertama dilakukan di atas matras dengan posisi bayi tengkurap. Saat itu, tangisannya masih terdengar. Bantingan kedua di kasur, dengan posisi terlentang. Kepala bayi itu bahkan terkena botol susu saat peristiwa kedua.
"IS mengakui saat dibanting pertama korban masih menangis dan saat dibanting kedua kalinya Korban sempat merintih hingga akhirnya terdiam,"
pungkas Bambang, menutup penjelasan tentang sebuah kekejaman yang sulit dicerna akal sehat.
Artikel Terkait
Arus Mudik Lebaran Dominan ke Timur, Jasa Marga Catat 1,1 Juta Kendaraan Keluar Jabodetabek
Pemerintah Salurkan Rp72,75 Miliar untuk Tradisi Meugang Korban Banjir Aceh
Asing Borong Saham Emas dan Batu Bara Meski IHSG Tertekan
Ahli Ingatkan Pentingnya Persiapan Fisik untuk Mudik Lebaran 2026