Ia menjelaskan, permintaan bahan pangan yang stabil mulai dari tempe, telur, sayuran, hingga daging akan menciptakan gelombang ekonomi riil. Peternak, petani, dan pedagang lokal akan merasakan langsung dampaknya.
"Jika kebutuhan makan siang bergizi ini berjalan secara konsisten, maka otomatis permintaan bahan pangan meningkat. Peternak ayam, pengusaha telur, sayuran, daging, semua akan berkembang. Yang tadinya tidak ada usaha, akan muncul usaha baru. Yang sudah ada, akan membesar. Investasi datang, pekerja terserap, pengangguran menurun, kemiskinan insyaallah ikut berkurang," paparnya lebih lanjut.
Jadi, skemanya seperti siklus yang saling menguatkan. Desa-desa penghasil bahan baku akan menjadi pusat pasokan. Dampaknya pun meluas, tak hanya untuk anak sekolah dan ibu hamil, tapi juga untuk pelaku UMKM, petani, bahkan sopir yang mengangkut barang. Ekonomi desa berdenyut lebih kencang.
Di sisi lain, Pemerintah Kabupaten Jember tak menutup mata soal risiko. Mereka tak mau program sepenting ini ternodai oleh masalah keamanan pangan atau distribusi yang amburadul. Untuk itulah, dibentuk Satgas MBG yang bertugas mengawasi setiap tahapan. Mulai dari kualitas gizi, proses distribusi, hingga mengantisipasi hal-hal tak terduga seperti keracunan makanan. Satgas ini merupakan kolaborasi antara pemerintah pusat, provinsi, dan kabupaten, sesuai arahan dari Jakarta.
Jalan masih panjang, tapi langkah pertama sudah diambil. Semua mata kini tertuju pada realisasi di lapangan.
Artikel Terkait
Gubernur Pramono Anung Hentikan Sementara Operasi RDF Rorotan Usai Tekanan Warga
Fadli Zon Usulkan Indonesia Spotlight di IFFR dan Percepatan Repatriasi Koleksi Raden Saleh
Jalan Salah Danasamsita Ambles, Wali Kota Bogor Tutup Akses Sementara
Misteri di Pinggir Tol: Pria Tewas di Dalam Mobil yang Masih Menyala