Surat Terakhir di Stasiun Pondok Ranji dan Ajakan Polisi untuk Lebih Peduli

- Rabu, 10 Desember 2025 | 17:00 WIB
Surat Terakhir di Stasiun Pondok Ranji dan Ajakan Polisi untuk Lebih Peduli

Artikel ini ditulis dengan penuh rasa hormat. Jika Anda atau orang terdekat mengalami tekanan emosional, jangan ragu mencari bantuan profesional dari psikolog atau layanan kesehatan mental terdekat.

Siang tadi, suasana di sekitar Stasiun Pondok Ranji, Ciputat, mendadak tegang. Seorang pria ditemukan meninggal dunia di perlintasan kereta api. Yang membuat hati miris, di TKP polisi menemukan secarik surat yang diduga merupakan tulisan terakhir korban.

Informasi awal menyebutkan, pria berinisial MH (23 tahun) itu diduga sengaja menabrakkan diri ke kereta. Iptu Saiful Gofur dari Pawas Polsek Ciputat Timur langsung memimpin proses evakuasi di Jalan Haji Toran, Kelurahan Rengas. Dia dibantu sejumlah personel dari berbagai unit, mulai dari Binmas hingga Kapolsubsektor setempat.

“Melakukan evakuasi terhadap seorang pria berinisial MH (23) yang diduga menabrakkan diri ke kereta api,”

Begitu bunyi keterangan resmi yang dibagikan Polsek Ciputat Timur lewat Instagram mereka, Rabu (10/12/2025) ini.

Setelah proses identifikasi awal, jenazah korban kemudian dibawa Tim Identifikasi Polres Tangerang Selatan. Mereka akan melakukan pemeriksaan lebih detail. Sementara itu, suasana duka jelas menyelimuti lokasi kejadian.

Polisi pun menyampaikan belasungkawa yang mendalam untuk keluarga korban. Tapi tidak berhenti di situ. Dalam pernyataannya, mereka menyelipkan ajakan yang menyentuh untuk kita semua.

“Melalui peristiwa ini, kami mengajak seluruh warga untuk lebih peduli terhadap orang-orang di sekitar kita. Terkadang seseorang hanya butuh didengar agar tak merasa sendirian,”

Ungkapan itu sekaligus menjadi pengantar bagi sebuah inisiatif. Polsek Ciputat Timur membuka ruang percakapan bagi siapa saja yang mungkin sedang berjuang sendirian.

“Silakan bercerita lewat DM atau komentar. Kami selalu siap mendengar. Kehadiran Anda penting. Ceritamu berarti,”

Ajakan itu mereka sampaikan lugas. Intinya jelas: di balik seragam, mereka juga ingin menjadi bagian dari sistem pendukung, support system, bagi warga yang membutuhkan tempat bercerita.

Peristiwa tragis di tengah hari ini, sekali lagi, mengingatkan betapa krusialnya perhatian dan empati dalam kehidupan sehari-hari. Siapa sangka, sebuah obrolan ringan atau tanya kabar yang tulus bisa berarti segalanya.

Editor: Melati Kusuma

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar