Program magang ini disebutnya sebagai langkah awal. Fondasi untuk membangun inovasi usaha dan membuka lebih banyak kesempatan kerja di pedesaan. Tapi tentu, pengembangan koperasi harus terus didorong lewat kemitraan yang kuat, akses pembiayaan, dan jejaring yang luas. Farida berharap praktik baik dari Kopontren Al-Ittifaq tempat mereka magang bisa ditiru di daerah asal.
Ia lantas mengingatkan hal yang cukup mendesak. Para peserta diminta segera mengirimkan data lahan di desanya yang siap dipakai untuk membangun aset fisik. Misalnya untuk gudang atau gerai. Soalnya, masih banyak koperasi yang datanya belum lengkap. Farida juga menekankan agar koperasi tetap inklusif, terbuka untuk semua warga, bukan jadi kelompok eksklusif.
Dari sisi penyelenggara, Desty Anna Sari, Deputi Bidang Pengembangan Talenta Kemenkop, menjelaskan bahwa magang ini adalah bagian dari proses inkubasi. Ia berharap pengalaman langsung di Ciwidey bisa langsung diimplementasikan oleh para peserta.
Sementara itu, Presiden Direktur Al-Ittifaq, Irpan Sadikin, punya penyematan istilah yang puitis. Ia menyebut para peserta sebagai bibit unggul untuk masa depan koperasi Indonesia.
Keberhasilan model koperasi modern seperti yang dijalankan Al-Ittifaq, menurutnya, bisa ditularkan. Tujuannya bukan cuma menggerakkan ekonomi satu desa, tapi juga memberi dampak riil bagi masyarakat di sekitarnya.
Artikel Terkait
Arab Saudi Tegaskan Wilayahnya Tak Akan Jadi Pangkalan Serangan ke Iran
Saksi Google Buka Suara di Sidang Korupsi Chromebook Rp 2,1 Triliun
Warga Korea Dideportasi dari Bali Usai Bongkar Garis Pembatas Lahan
Saksi Kunci di Sidang Korupsi Chromebook Klaim Lupa, Jaksa Sampai Angkat Tangan