Hasto Kristiyanto Soroti Krisis Moral di Balik Maraknya Korupsi

- Selasa, 09 Desember 2025 | 12:05 WIB
Hasto Kristiyanto Soroti Krisis Moral di Balik Maraknya Korupsi

Di Sekolah Partai PDIP, Lenteng Agung, Sekjen PDI Perjuangan Hasto Kristiyanto berbicara blak-blakan. Topiknya berat: korupsi dan moral bangsa yang ia nilai kian merosot. Seminar Nasional Refleksi Hari Anti Korupsi Sedunia itu digelar Selasa lalu, menjadi panggung bagi Hasto untuk menyampaikan kegelisahannya.

Pidatonya membuka lembaran sejarah. Ia mengingatkan, Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) justru lahir di era kepemimpinan Presiden Megawati Soekarnoputri. "KPK dibentuk dalam suatu konsideran ketika aparat penegak hukum masih dikuasai oleh penguasa," ujarnya, menjelaskan konteks kelahiran lembaga antirasuah itu.

Nah, dari situ pembicaraannya mengalir ke sebuah buku. Judulnya 'How Democracies Die' karya Steven Levitsky. Menurut Hasto, buku itu menggambarkan dengan jelas bagaimana rezim otoriter biasanya terbentuk.

"Secara empiris sangat jelas, seringkali ada yang diwarnai dengan krisis. Kita kan mulai ketika terjadi Covid, itu kan terjadi pemusatan kekuasaan eksekutif,"

Buku itu, katanya, ia dapatkan dari Mas Sukidi, seorang pemikir Islam kebangsaan yang besar dalam kultur Muhammadiyah. Dari bacaan itulah ia makin yakin bahwa krisis kerap jadi pintu masuk bagi pemusatan kekuasaan.

Namun begitu, buku tersebut tak cuma memaparkan masalah. Ada juga penjelasan soal cara negara-negara membentengi diri dari otoritarianisme. Kuncinya, kata Hasto, ada pada etika dan nilai-nilai yang dipegang teguh suatu bangsa.

"Itu karena suatu etika, moral, nilai, yang menjadi values dari bangsa itu saudara-saudara sekalian,"

Lalu, bagaimana dengan kondisi kita sekarang? Di sinilah Hasto terlihat getir. Ia menyoroti persoalan korupsi yang justru kian membesar belakangan ini. Baginya, ini bukan sekadar masalah penegakan hukum. Lebih dalam lagi, ini adalah cerminan dari nilai-nilai yang tergerus.

"Korupsi makin membesar, artinya nilai-nilai etika moral itu juga mulai menurun," imbuhnya. Pernyataan itu seperti titik tekan dari seluruh uraiannya. Ia seolah ingin mengatakan, pertarungan melawan korupsi pada hakikatnya adalah pertarungan mempertahankan jiwa bangsa itu sendiri. Sebuah pekerjaan rumah yang jauh lebih rumit daripada sekadar menangkap para pelaku.

Editor: Novita Rachma

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar