Di Sekolah Partai PDIP, Lenteng Agung, Sekjen PDI Perjuangan Hasto Kristiyanto berbicara blak-blakan. Topiknya berat: korupsi dan moral bangsa yang ia nilai kian merosot. Seminar Nasional Refleksi Hari Anti Korupsi Sedunia itu digelar Selasa lalu, menjadi panggung bagi Hasto untuk menyampaikan kegelisahannya.
Pidatonya membuka lembaran sejarah. Ia mengingatkan, Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) justru lahir di era kepemimpinan Presiden Megawati Soekarnoputri. "KPK dibentuk dalam suatu konsideran ketika aparat penegak hukum masih dikuasai oleh penguasa," ujarnya, menjelaskan konteks kelahiran lembaga antirasuah itu.
Nah, dari situ pembicaraannya mengalir ke sebuah buku. Judulnya 'How Democracies Die' karya Steven Levitsky. Menurut Hasto, buku itu menggambarkan dengan jelas bagaimana rezim otoriter biasanya terbentuk.
"Secara empiris sangat jelas, seringkali ada yang diwarnai dengan krisis. Kita kan mulai ketika terjadi Covid, itu kan terjadi pemusatan kekuasaan eksekutif,"
Buku itu, katanya, ia dapatkan dari Mas Sukidi, seorang pemikir Islam kebangsaan yang besar dalam kultur Muhammadiyah. Dari bacaan itulah ia makin yakin bahwa krisis kerap jadi pintu masuk bagi pemusatan kekuasaan.
Namun begitu, buku tersebut tak cuma memaparkan masalah. Ada juga penjelasan soal cara negara-negara membentengi diri dari otoritarianisme. Kuncinya, kata Hasto, ada pada etika dan nilai-nilai yang dipegang teguh suatu bangsa.
"Itu karena suatu etika, moral, nilai, yang menjadi values dari bangsa itu saudara-saudara sekalian,"
Lalu, bagaimana dengan kondisi kita sekarang? Di sinilah Hasto terlihat getir. Ia menyoroti persoalan korupsi yang justru kian membesar belakangan ini. Baginya, ini bukan sekadar masalah penegakan hukum. Lebih dalam lagi, ini adalah cerminan dari nilai-nilai yang tergerus.
"Korupsi makin membesar, artinya nilai-nilai etika moral itu juga mulai menurun," imbuhnya. Pernyataan itu seperti titik tekan dari seluruh uraiannya. Ia seolah ingin mengatakan, pertarungan melawan korupsi pada hakikatnya adalah pertarungan mempertahankan jiwa bangsa itu sendiri. Sebuah pekerjaan rumah yang jauh lebih rumit daripada sekadar menangkap para pelaku.
Artikel Terkait
Jadwal Salat Surabaya Hari Ini, 1 Mei 2025: Imsak hingga Isya
Kemendagri Dorong Penegasan Batas 5.000 Desa Hingga 2029 untuk Cegah Konflik Wilayah
Distok Hewan Kurban Banjarnegara Melimpah, Sapi Lokal Besar-besar Justru Dikirim ke Luar Daerah
Polda Kalsel Bangun Markas Brimob di Dua Desa Terluar Kotabaru untuk Jaga Stabilitas Keamanan