Delapan kecamatan di Sumatera Utara masih terputus dari dunia luar. Pemicunya? Banjir dan tanah longsor yang melanda beberapa hari lalu. Meski begitu, kabar baik datang dari pihak berwenang: kondisi warga yang terisolasi itu disebut masih baik-baik saja.
Mayjen Budi Irawan dari BNPB yang saya hubungi Senin (8/12) lalu menegaskan hal itu.
"Semua dalam keadaan sehat-sehat saja," ujarnya singkat namun melegakan.
Bantuan untuk mereka, kata Budi, sudah mulai disalurkan meski harus dengan cara-cara yang tidak biasa. Helikopter jadi andalan utama saat ini, mengingat akses darat benar-benar hancur. Tapi, itu bukan satu-satunya cara.
Di sisi lain, ada juga tim yang nekat masuk dengan berjalan kaki. Mereka memanggul ransel berisi makanan dan logistik darurat, menyusuri jalur yang rusak untuk menjangkau lokasi.
"Sambil jalan, mereka juga mencari titik yang memungkinkan untuk pendaratan heli," jelas Budi. "Kalau ketemu spotnya, heli bisa mendarat. Kalau enggak, ya kita lakukan fast dropping. Bantuan diturunkan pakai tali."
Soal evakuasi warga menggunakan helikopter, Budi dengan tegas membantah. Menurut penilaian tim di lapangan, situasinya tidak sampai mengharuskan hal itu.
"Nggak ada. Daerah itu bukan termasuk zona merah. Masalahnya cuma akses jalannya yang putus," lanjutnya menerangkan.
Jadi, fokus utama sekarang adalah memastikan logistik terus mengalir. Sembari menunggu jalur darat diperbaiki, kombinasi antara udara dan tenaga manusia jadi penopang hidup bagi ribuan warga yang terdampak.
Artikel Terkait
Gubernur Maluku Utara Syok Lihat Kakek 80 Tahun Punya Istri Jauh Lebih Muda
Jadwal Salat Makassar Kamis 7 Mei 2026: Subuh Pukul 04.44 Wita, Magrib Pukul 17.59 Wita
40 Rumah Sakit di Indonesia Kantongi Sertifikasi Syariah, Wamenkes Tegaskan Bersifat Inklusif
Menag: Borobudur Bukan Sekadar Warisan Budaya, Tapi Kitab Spiritual yang Hidup