Namun begitu, hakim tak langsung menerima jawaban itu. Hakim mengingatkan bahwa perjanjian kemitraan mereka sebenarnya sudah tertulis hingga tahun 2039. Intinya, kerja sama itu seharusnya tetap berjalan tanpa perlu ‘hadiah’ khusus. Hakim pun mendesak Djunaidi untuk jujur.
Di bawah tekanan pertanyaan itulah Djunaidi kemudian menguraikan pemikirannya. Dia mengaku tak masalah mengeluarkan uang untuk mobil mewah tersebut. Dalam benaknya, Rubicon merah itu adalah investasi untuk motivasi.
Jadi, begitulah kira-kira alur pikirnya. Sebuah mobil Rubicon merah bukan sekadar hadiah, tapi lebih seperti stimulus sebuah cara untuk membangkitkan gairah kerja di tengah lahan-lahan sawit yang luas.
Artikel Terkait
Ditjen Pajak: Baru 55,7% Wajib Pajak yang Lapor SPT Tahunan Jelang Libur Panjang
Rekayasa Lalu Lintas Diterapkan di Bundaran HI untuk Acara Eid Mubarak Jakarta
Bek Persib Frans Putros Dipanggil Timnas Irak untuk Persiapan Play-off Piala Dunia
Gelombang Pemudik Motor Padati Pelabuhan Ciwandan Cilegon di H-3 Lebaran