Di Balik Reruntuhan Banjir, Seorang Perempuan Berjuang Menyelamatkan Puluhan Kucing Terlantar

- Minggu, 07 Desember 2025 | 17:15 WIB
Di Balik Reruntuhan Banjir, Seorang Perempuan Berjuang Menyelamatkan Puluhan Kucing Terlantar

Banjir bandang dan tanah longsor yang menerjang Sumatera Barat pekan lalu tak hanya menyisakan duka bagi manusia. Di tengah upaya penyelamatan warga, ada juga cerita tentang penyelamatan makhluk lain yang ikut menjadi korban: kucing-kucing yang terlantar.

Nama Salmiati mungkin tak segera muncul dalam laporan-laporan utama. Tapi bagi puluhan kucing yang tersapu arus, perempuan warga Kampung Teleng, Kota Padang ini adalah penyelamat mereka. Sementara perhatian banyak orang tertuju pada evakuasi manusia, Salmiati justru menyusuri sudut-sudut kota yang porak-poranda. Tujuannya satu: menemukan dan membawa kucing-kucing yang terpisah dari pemiliknya atau hidup liar itu ke tempat aman.

“Awalnya saya memang tidak mau menyelamatkan kucing itu,” aku Salmiati, mengisahkan awal mula kepeduliannya, yang ternyata sudah berlangsung 16 tahun.

Ceritanya berawal saat ia masih bekerja sebagai kurir. Saat mengantarkan paket dan melintasi tempat sampah, ia melihat seekor kucing mengeong meminta tolong. Hatinya terusik. Meski sempat ragu dan mencoba berlalu, akhirnya ia memutuskan untuk menolong. Sejak saat itu, ia seperti menemukan panggilan.

Menurut Salmiati, hampir semua kucing yang ia temukan kondisinya memprihatinkan. Sakit, cedera, bahkan ada yang mengidap tumor. Ia merawat mereka dengan sabar, layaknya merawat manusia. Nah, ketika bencana melanda Padang, aktivitasnya ini menjadi semakin krusial. Sekitar 30 ekor kucing telah ia evakuasi dari pinggir jalan, reruntuhan, hingga tumpukan sampah.

Semua kucing itu kini ditampung di sebuah selter di daerah Kampung Teleng. Lokasinya agak terpencil, di ujung sebuah permukiman dengan jalan berbatu. Jarak ke rumah warga terdekat sekitar 10 meter, membuat tempat itu cukup sunyi.

Namun begitu, Salmiati mengakui fasilitas yang ada masih jauh dari ideal. Tempat penampungan saat ini belum representatif. Impiannya sederhana tapi besar: memiliki selter yang lebih layak. Ia membayangkan sebuah tempat dengan taman, ruang terbuka, area makan yang memadai, dan tentu saja, dukungan fasilitas kesehatan untuk binatang-binatang itu.

“Harapan saya hanya itu,” ujarnya. Suaranya terdengar tenang namun penuh keyakinan. “Karena ini adalah tentang perasaan dan batin.”

Di balik gemuruh berita bencana, kisah Salmiati mengingatkan kita pada sebuah kebaikan yang sunyi. Sementara kota berbenah, perjuangannya untuk memberi para korban berbulu itu kehidupan yang lebih layak terus berlanjut.

Editor: Novita Rachma

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar

Terpopuler