Malam ini, Stadion Utama Gelora Bung Karno (SUGBK) tak hanya ramai oleh sorak sorai penonton olahraga. Suasana berbeda terasa, dihiasi gemerlap lampu perayaan dan nuansa khidmat. Di tengah kerumunan, Menteri Agama Nasaruddin Umar hadir dan turut menyampaikan sambutan dalam perayaan Natal Tiberias 2025.
Baginya, kehadirannya malam ini bukan sekadar formalitas. Ini adalah perayaan nyata atas perbedaan yang justru menjadi kekuatan.
"Malam ini betul-betul kita merayakan perbedaan, inilah Indonesia," ujar Nasaruddin, Sabtu (6/12/2025).
Suaranya tegas namun hangat. "Di tempat lain, di negara lain, perbedaan itu sumber konflik. Tetapi kita di Republik Indonesia ini, perbedaan itu adalah sebuah lukisan Tuhan yang sangat indah."
Menurutnya, Indonesia adalah kanvas agung itu sendiri. Sebuah mahakarya yang terdiri dari beragam warna dan goresan, namun tetap hidup dalam harmoni. "Indonesia adalah lukisan Tuhan yang sangat indah," katanya. "Dan tidak boleh ada yang mengacak-acak dan tidak boleh ada yang merusak lukisan Tuhan ini."
Di sisi lain, Nasaruddin menekankan bahwa momen berkumpul ini adalah wujud silaturahmi yang paling hakiki. Ada ikatan batin, katanya, yang menyatukan setiap warga negara meski latar belakang mereka berbeda-beda.
"Hari ini kita semuanya berkumpul dalam rangka mempererat hubungan silaturahmi antara satu sama lain di antara kita semuanya," ucapnya.
"Inilah makna suasana keberagamaan, hubungan batin antara satu sama lain, luar biasa ditampilkan di Indonesia."
Nuansa itu sendiri benar-benar terasa malam itu. Dalam jeda hening sambutannya, mungkin saja terdengar gemanya. Suara adzan yang berkumandang, beriringan dengan dentang lonceng gereja dari kejauhan. Bagi Menag, itu bukan pertentangan, melainkan simfoni.
"Tetapi bertalu-talu satu sama lain memperindah atmosfer bangsa Indonesia," jelasnya. "Kita harus bangga. Benar-benar kita harus bersyukur kepada Tuhan Yang Maha Kuasa."
Tak lupa, Nasaruddin juga menyentuh persoalan yang sedang dihadapi bangsa. Membahas bencana di Sumatera, ia menegaskan komitmen pemerintah untuk membantu secepatnya. Bantuan itu, tegasnya, diberikan tanpa memandang sebelah mata.
"Insyaallah, apa yang kita saksikan penderitaan kita di berbagai daerah di Indonesia, dalam tempo yang sangat singkat, bisa kita bantu bersama," pungkasnya.
"Tanpa membedakan agama apapun, jenis kelamin mana pun, umur berapa pun. Semuanya ini adalah warga bangsa Indonesia."
Artikel Terkait
Korlantas Pilih Jalur Dialog dan Pelatihan, Bukan Sekadar Tilang, untuk Tekan Kecelakaan Angkutan Umum
Indonesia dan Jepang Sama-Sama Raih Kemenangan di Laga Perdana Grup B Piala Asia U17
Dudung Bantah Punya Masalah Pribadi dengan Habib Rizieq dan Menolak Tudingan di Balik Pidato Prabowo
Kapal Nelayan Ditabrak Kapal Kargo di Perairan Kalianda, Satu ABK Hilang