Suasana Jorong Toboh di Nagari Malalak Timur masih terasa tenang Rabu sore itu. Sawah menghijau, beberapa petani menjemur kayu manis di tepi jalan, dan celoteh anak-anak sesekali terdengar. Fendi, warga setempat, sama sekali tak menduga bahwa ketenangan itu akan luluh lantak hanya dalam hitungan menit.
Semuanya berubah sekitar pukul tiga sore. Dari arah perbukitan, terdengar suara letupan keras, mirip petir yang terus-menerus. Fendi langsung waspada. Ia menoleh ke arah bukit, dan di sanalah ia melihatnya: gulungan air besar berwarna putih, membawa kayu dan material lainnya, meluncur deras menghantam segala sesuatu di depannya. Galodo. Banjir bandang itu datang begitu cepat.
Dia spontan berteriak sekencang-kencangnya, memperingatkan tetangga untuk segera menyelamatkan diri. "Saya melihat langsung dari bukit itu air berwarna putih dan kayu-kayu mulai meluncur deras. Saya berusaha meneriaki warga agar segera menyelamatkan diri," kenang Fendi.
Bersama beberapa warga lain, ia berlari mencari tempat yang lebih tinggi. Napasnya tersengal, jantung berdebar kencang. Dari titik aman itu, pemandangan yang disaksikannya sungguh memilukan. Perkampungan yang baru saja damai, seketika berubah jadi lautan lumpur dan puing. Jeritan panik masih terdengar menyayat.
Artikel Terkait
Xpeng Resmikan Dealer 3S Terbaru di Pluit, Perkuat Jaringan di Jakarta
WNI Bercerita 10 Bom Melintas di Atas KBRI Teheran Saat Evakuasi
DPR Gelar Uji Kelayakan 10 Calon Pimpinan OJK Besok
Iran Tawarkan Akses Selat Hormuz bagi Negara yang Usir Dubes AS dan Israel