Di tengah kemeriahan puncak HUT ke-61 Partai Golkar di Istora Senayan, Presiden Prabowo Subianto menyampaikan pidato yang cukup menusuk. Ia tampak menyoroti sebuah fenomena yang kerap ia jumpai: segelintir pihak yang dinilainya gemar mengkritik tanpa pernah turun tangan memberi solusi.
“Orang-orang pintar yang bisa bicara, bicara, bicara,” ujarnya, suara terdengar berkarakter khas.
“Mencari kesalahan terus, mencari kesalahan. Tapi tidak bisa membuat jembatan, tidak bisa menciptakan lapangan kerja. Jangankan hal-hal besar, menjamin beras ada, menjamin LPG atau BBM tersedia pun mungkin tak sanggup.”
Ungkapan itu ia lontarkan Jumat lalu, di hadapan kader partai yang memadati venue tersebut. Meski terasa sindiran itu cukup tajam, Prabowo justru mengaku merasa sedih dan prihatin melihatnya. Baginya, sikap seperti itu hanya menebar rasa tidak percaya di antara sesama.
Tapi ya sudahlah. “Biarlah,” katanya santai. Menurutnya, itu semua adalah bagian dari karya demokrasi yang harus dihargai. Ia pun merasa tak punya hak untuk menghentikannya.
Di sisi lain, dalam kesempatan yang sama, Prabowo tak lupa menyampaikan apresiasi mendalam. Ia berterima kasih pada Partai Golkar atas undangan dan, yang lebih penting, atas kesetiaannya selama ini.
“Yang penting, saya ucapkan terima kasih karena malam ini diundang. Saya juga apresiasi kesetiaan Partai Golkar pada koalisi yang saya pimpin,” tuturnya, merujuk pada Koalisi Indonesia Bersatu.
Pidato itu pun berakhir, meninggalkan kesan tentang seorang pemimpin yang mencoba menyeimbangkan antara kritik pedas dan penghargaan pada sekutu politiknya.
Artikel Terkait
Prabowo Tegaskan MBG Lanjut, Akui Masih Ada Kekurangan di Lapangan
Pria di India Bawa Kerangka Adik ke Bank sebagai Bukti Kematian demi Cairkan Tabungan
Longsor di Merangin, Akses Jalan Desa Rantau Jering Masih Tersumbat Material
Anggota DPR Dorong Dirut KAI Evaluasi Total Sistem Keselamatan Usai Insiden Stasiun Bekasi Timur