Tawa Anak-anak di Pengungsian, Penawar Trauma Pasca Galodoh Agam

- Jumat, 05 Desember 2025 | 06:50 WIB
Tawa Anak-anak di Pengungsian, Penawar Trauma Pasca Galodoh Agam

Gemuruh galodoh begitu warga menyebutnya telah berlalu. Tapi di Kecamatan Palembayan, Kabupaten Agam, rasa trauma itu masih menggumpal. Bencana banjir bandang itu tak cuma menyapu rumah-rumah, tapi juga merenggut nyawa. Bagi banyak korban, kehilangan itu terasa sangat personal: ada anggota keluarga yang tak lagi bisa ditemui.

Kini, kehidupan mereka berlangsung di tenda-tenda pengungsian. Di sanalah harapan bertahan, menunggu uluran tangan pemerintah untuk membangun kembali tempat tinggal yang hilang. Situasinya memang tidak mudah, penuh ketidakpastian.

Namun begitu, di tengah keprihatinan itu, muncul secercah perhatian. Sebuah tim gabungan yang dipimpin Polwan Polda Riau turun ke lokasi. Mereka tak sendirian; ikut serta konselor psikolog dan puluhan mahasiswa dari Himpsi. Tujuannya jelas: memulihkan mental para korban, sedikit demi sedikit.

Dan mereka datang membawa sesuatu. Bukan cuma niat baik, tapi juga mainan, buku mewarnai, hingga camilan ringan untuk anak-anak.

Suasana pun berubah. Wajah-wajah muram anak-anak mulai merekah saat diajak bermain ular tangga atau congklak. Riuh tawa mereka, meski sementara, menjadi penawar bagi kesunyian di pengungsian. Aktivitas sederhana itu diharapkan bisa mengikis luka di jiwa mereka.

Kepala SPN Polda Riau, Kombes Indra Duaman, memimpin langsung kegiatan ini.

"Ini bentuk kehadiran kami, Polri, khususnya Polda Riau dan Sumbar, untuk masyarakat yang sedang terdampak," ujarnya.

Lebih lanjut Indra menjelaskan, "Tim Trauma Healing akan membantu pemulihan psikis para korban pascabencana, khususnya kaum rentan seperti anak-anak, ibu-ibu dan lansia."

Psikolog Polda Riau, Ipda Olivia Margareth, memaparkan pendekatan yang mereka ambil. Metodenya berbeda untuk tiap kelompok.

"Untuk anak-anak, kami fokus mengembalikan keceriaan lewat permainan. Sedangkan untuk ibu-ibu dan lansia, kami lakukan konseling," kata Olivia.

Dari penilaian awal, kata dia, dampak trauma itu bervariasi. Banyak korban yang langsung merasa cemas begitu mendengar suara mirip gemuruh air suara yang mengingatkan mereka pada galodoh.

"Berdasarkan hasil asesmen awal, banyak ditemukan tingkat trauma dari gejala awal, ringan, juga berat," jelasnya.

Bagi yang mengalami gejala sedang hingga berat, tim menyiapkan penanganan khusus. Gejalanya bisa berupa kecemasan berlebihan, kesedihan mendalam, atau ketakutan akan bencana susulan.

"Karena sekarang ini sudah hari keenam, kami melihat tingkatan trauma yang dominan adalah ringan hingga sedang," imbuh Olivia.

Data terakhir memang suram. Peristiwa pada 27 November 2025 itu menewaskan sekitar 200 orang, dengan puluhan lainnya masih dinyatakan hilang. Ribuan warga terpaksa mengungsi, meninggalkan sisa-sisa kehidupan yang porak-poranda.

Editor: Melati Kusuma

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar