Semua ini dilakukan untuk mempercepat proses. Presiden Prabowo Subianto sendiri sudah memberi perintah, yang kemudian diteruskan Kapolri Listyo Sigit, agar identifikasi korban bisa dilakukan secepat mungkin. Makanya, polisi mengambil langkah ‘jemput bola’.
Maksudnya? Tim DVI dikerahkan langsung ke lokasi, tidak menunggu jenazah dibawa ke rumah sakit. Di Agam, misalnya, tenaga kesehatan dikirim khusus. “Jangan harus menunggu lama di sini. Kalau perjalanan dari Agam ke sini kan butuh waktu,” papar Dedi. Mereka akan langsung bekerja begitu jenazah ditemukan, mulai dari identifikasi sidik jari yang simpel, hingga metode yang lebih kompleks jika diperlukan.
Tak cuma Polri yang bergerak. Menurut Dedi, semua pihak bahu-membahu. Pemerintah Daerah, TNI, Basarnas, dan sektor terkait lainnya berjibaku di lapangan. Fokusnya dua hal: mengevakuasi korban selamat untuk diberi perawatan, dan mengidentifikasi korban meninggal dengan cepat dan tepat.
“Tim dari Jakarta, semuanya turun ke sini,” pungkasnya. Upaya bersama ini diharapkan bisa meringankan beban keluarga dan memulihkan keadaan secepat mungkin.
Artikel Terkait
Tito Karnavian Tinjau Bireuen, Fokus pada Jembatan Rusak dan Pembersihan Lumpur
Gempa 4,3 SR Guncang Laut Dekat Sarmi, Papua
Polri Bentuk Satuan Khusus untuk Lindungi Perempuan dan Anak dari Kekerasan
Koperasi Pesantren Dijadikan Kakak Asuh untuk Genjot Kopdes Merah Putih