Situasi di lapangan benar-benar kacau. Banyak desa masih terisolasi, tak bisa dijangkau dari darat karena genangan air yang tak kunjung surut. Akses jalan terputus total, tertutup tumpukan material kayu, lumpur tebal, serta pepohonan dan tiang listrik yang tumbang berserakan.
Menghadapi kenyataan pahit itu, Ayahwa akhirnya menyampaikan permohonan resminya.
“Menindaklanjuti hal tersebut di atas, kami menyatakan ketidakmampuan upaya penanganan darurat bencana dan memohon kepada bapak presiden agar kiranya membantu penanganan banjir di Kabupaten Aceh Utara,”
Surat itu kini menjadi bukti betapa gentingnya situasi. Sebuah kabupaten besar seperti Aceh Utara ternyata benar-benar kelabakan, terpaksa mengibarkan bendera putih ke Istana.
Artikel Terkait
Golkar Siapkan 20 Bus Mudik Gratis untuk Tiga Provinsi
Polisi Periksa Baju Meleleh dan Helm Pelaku dalam Kasus Penyiraman Air Keras ke Aktivis KontraS
Arus Mudik Mulai Padat di Tol Cipali, Volume Kendaraan Naik 9,2 Persen
Keluarga Pemudik Tersasar di Tol Semarang-Solo Diselamatkan Patroli Polisi