Situasi di lapangan benar-benar kacau. Banyak desa masih terisolasi, tak bisa dijangkau dari darat karena genangan air yang tak kunjung surut. Akses jalan terputus total, tertutup tumpukan material kayu, lumpur tebal, serta pepohonan dan tiang listrik yang tumbang berserakan.
Menghadapi kenyataan pahit itu, Ayahwa akhirnya menyampaikan permohonan resminya.
“Menindaklanjuti hal tersebut di atas, kami menyatakan ketidakmampuan upaya penanganan darurat bencana dan memohon kepada bapak presiden agar kiranya membantu penanganan banjir di Kabupaten Aceh Utara,”
Surat itu kini menjadi bukti betapa gentingnya situasi. Sebuah kabupaten besar seperti Aceh Utara ternyata benar-benar kelabakan, terpaksa mengibarkan bendera putih ke Istana.
Artikel Terkait
Iran Gelar Latihan Tembak Langsung di Selat Hormuz Jelang Eskalasi Ketegangan
18 RT Terendam, Banjir Kembali Serbu Jakarta Selatan dan Timur
Di Balik Ancaman Perang, Iran Sembunyikan Pintu Kecil untuk Negosiasi
Gempa M 4,3 Guncang Laut dekat Tahuna di Tengah Malam