Maduro Kecam Eskalasi Militer AS: Kita Tidak Ingin Jadi Budak

- Selasa, 02 Desember 2025 | 09:55 WIB
Maduro Kecam Eskalasi Militer AS: Kita Tidak Ingin Jadi Budak

Nicolas Maduro tak tinggal diam. Menghadapi eskalasi militer Amerika Serikat di kawasan Karibia, Presiden Venezuela itu melontarkan kecaman pedas. Bagi Maduro, ini bukan soal perdamaian, tapi penjajahan bentuk baru. "Kita tidak ingin jadi budak," tegasnya.

Selama 22 pekan terakhir, tekanan dari Washington memang makin menjadi. Armada laut AS dikerahkan dalam skala besar, kapal-kapal yang diduga mengangkut narkoba dari Venezuela dibombardir, dan peringatan keras dikeluarkan untuk wilayah udara Venezuela. Semua ini, di mata Maduro, adalah ujian sekaligus teror psikologis yang ditujukan untuk menggoyahkan pemerintahannya.

Di hadapan para pendukungnya di Caracas, suasananya tegang namun penuh semangat. Maduro berbicara lantang.

"Kita menginginkan perdamaian, tetapi perdamaian dengan kedaulatan, kesetaraan, dan kebebasan! Kita tidak menginginkan perdamaian budak, atau perdamaian koloni!"

Pidatonya, seperti dilaporkan sejumlah media internasional, jelas merupakan respons atas langkah-langkah AS. Maduro menuduh Washington terus berupaya menjatuhkannya dari kursi kekuasaan.

Di sisi lain, dari Washington, Presiden Donald Trump mengaku telah melakukan percakapan telepon dengan Maduro. Itu terjadi awal pekan ini. Trump enggan merinci isi pembicaraan mereka, hanya mengonfirmasi bahwa dialog itu terjadi.

Bagaimana dengan Maduro? Sampai berita ini diturunkan, dia belum memberi komentar spesifik soal telepon tersebut. Meski begitu, sebelumnya dia pernah menyatakan kesiapannya untuk duduk satu meja dengan Trump, melakukan pertemuan langsung. Tampaknya, jalan dialog masih terbuka, meski diwarnai saling ancam dan kecurigaan yang mendalam.

Yang pasti, rakyat Venezuela berada di tengah situasi ini. Seperti diungkapkan Maduro, mereka telah menunjukkan cinta pada tanah airnya. Pertanyaannya sekarang, sampai kepada ujung mana ketegangan dua negara ini akan berlabuh?

Editor: Handoko Prasetyo

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar