Wakapolri Buka Luka Lama: Saat Bencana Menghantam, Korban Juga dari Aparat

- Senin, 01 Desember 2025 | 13:25 WIB
Wakapolri Buka Luka Lama: Saat Bencana Menghantam, Korban Juga dari Aparat

Wakapolri Cerita Pengalaman Pahit di Medan Bencana

Mako Polisi Udara Pondok Cabe pagi itu ramai. Komjen Dedi Prasetyo memimpin apel pemberangkatan pasukan bantuan. Mereka akan dikirim ke daerah yang porak-poranda diterjang banjir bandang di Aceh, Sumut, dan Sumbar. Dalam amanatnya, Wakapolri itu tak cuma memberi pengarahan. Dia juga berbagi cerita pengalaman langsungnya menangani daerah bencana pengalaman yang jelas masih membekas.

Pikirannya langsung melayang ke dua puluh tahun silam. Desember 2004. Dedi, kala itu, termasuk dalam tim pertama yang mendarat di Aceh pascatsunami dahsyat.

"Ini pengalaman saya, tsunami Aceh 2004, saya bersama Bapak Kapolri pertama kali mendarat di sana. Situasi memang anomali, kacau balau. Pasukan di sana tidak akan siap menghadapi situasi yang sangat mendadak seperti itu,"

Katanya, suara terdengar berat. Kekacauan serupa terulang di Palu tahun 2018. Gempa dan tsunami yang datang tiba-tiba tak cuma meluluhlantakkan kota, tapi juga membuat aparat di daerah ikut menjadi korban. Mereka terluka, kehilangan keluarga, atau trauma. Itulah mengapa, menurut Dedi, kiriman pasukan segar dari pusat itu sangat krusial.

"Pasukan yang ada di wilayah hanya bisa bertahan cuman ya paling lama 10 hari ya. Karena dia juga bagian daripada korban yang terdampak bencana alam,"

Bayangkan saja. Korban jiwa berjatuhan hingga ribuan. Rumah sakit setempat, termasuk RS Bhayangkara, langsung kolaps. Tak ada lagi ruang, tak ada lagi alat penyimpanan yang memadai. Keadaan benar-benar darurat.

"Pengalaman saya di Palu, itu mayat itu ribuan. Rumah Sakit Bhayangkara sudah enggak cukup, alat untuk penyimpan mayat sudah tidak ada lagi. Demikian juga di Rumah Sakit Palu pada, belum rumah sakit swasta. Ya kalau teman-teman yang berangkat ke Palu pada saat itu, lihat sendiri mayat semuanya digelatakin semuanya di halaman-halaman rumah sakit,"

Di titik seperti itulah, kata dia, kecepatan tim Disaster Victim Identification (DVI) dan Inafis sangat menentukan. Mereka harus bekerja dengan tempo tinggi, mengidentifikasi, dan segera menyerahkan jenazah kepada keluarga untuk dimakamkan. Tak bisa ditunda.

"Setiap hari, setiap jam tiga sore harus merilis berapa jumlah jenazah yang sudah berhasil diidentifikasi. Selesai dirilis sampaikan kepada keluarga... Harus segera dimakamkan, karena kita tidak bisa menunggu lama-lama. Kasihan jenazah,"

Nah, berangkat dari memori pahit itulah, Dedi berpesan kepada 497 personel yang bersiap diberangkatkan. Tahap pertama ini, 200 orang lebih dulu berangkat ke Sumut dan Sumbar. Mereka berasal dari berbagai satuan; logistik, DVI, Inafis, hingga unit K9.

Mereka diharapkan jadi pasukan “fresh” yang bisa memberi dukungan moril sekaligus menggantikan rekan-rekan di daerah yang sudah kelelahan. Tugas mereka jelas: membantu masyarakat.

Tapi Dedi tegas. Setiap orang, dari komandan hingga prajurit, harus paham betul job description-nya. Tak ada cerita komandan tak tahu apa yang dikerjakan anak buahnya, atau sebaliknya.

"Saya tidak mau dengar komandan tidak ngerti apa yang dikerjakan. Dan saya tidak mau dengar pasukan juga tidak tahu apa yang dikerjakan. Semuanya harus tahu kerjakan, semua harus bertanggung jawab terhadap apa yang harus kita kerjakan,"

Pesan itu dia sampaikan sebelum pasukan berpamitan. Mereka akan bertugas selama seminggu ke depan, menghadapi situasi yang tak pernah bisa sepenuhnya diprediksi. Seperti di Aceh 2004, atau di Palu 2018.

Editor: Erwin Pratama

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar