Dia menambahkan, tanpa adanya rasa saling percaya yang paling mendasar sekalipun, Korea Utara menunjukkan perilaku yang sangat ekstrem.
Di sisi lain, upaya meredakan ketegangan terus diupayakan. Baru pada 17 November lalu, Korsel mengajak Korut untuk berunding. Mereka mengusulkan pembicaraan militer guna menetapkan batas yang jelas di sepanjang Garis Demarkasi Militer. Tujuannya sederhana: mencegah bentrokan bersenjata yang bisa memicu konflik lebih luas.
Sayangnya, usulan itu hingga kini masih menggantung. Pyongyang tetap bungkam, tak ada tanggapan sama sekali.
Sepanjang tahun ini, situasi di perbatasan memang kerap memanas. Sudah tercatat lebih dari 10 kali tentara Korut melakukan pelanggaran. Beberapa insiden bahkan memaksa pasukan Korsel mengambil tindakan, melepaskan tembakan peringatan sesuai protokol yang berlaku. Semuanya berlangsung cepat, tegang, dan penuh ketidakpastian.
Artikel Terkait
Polisi Perbaiki Rumah Lansia Korban Puting Beliung di Ogan Ilir
KUR Berbasis Kekayaan Intelektual Diluncurkan untuk Buka Akses Dana bagi Kreator
Pertemuan Langsung Israel-Lebanon di Washington, Pembicaraan Pertama Sejak 1993
Polda Metro Jaya Terima Laporan Dugaan Kekerasan Seksual di Kampus Jakarta Selatan