Dia punya favorit pribadi, yaitu kunir asem dan beras kencur. Riris bilang rasanya itu pas banget di lidahnya.
Sebagai perantau asal Medan yang sekarang tinggal di Jakarta, Riris bersyukur masih bisa nemuin penjual jamu keliling. Di tengah gemerlapnya kehidupan ibu kota, jamu jadi pilihan yang cocok buatnya. Soalnya, dia nggak terlalu cocok sama tren minuman kekinian yang biasanya dijual di kafe.
Bukan cuma kopi, minuman beralkohol juga bukan dunianya. "Sama juga kalau minuman keras, walaupun cuman bir yang 0, berapa persen doang mesti badanku gatal-gatal merah gitu," lanjut Riris sambil tertawa. "Emang sangat tidak Gen Z gaul."
Jadi begitulah. Di balik tren party jamu yang kelihatannya cuma seru-seruan, ada cerita tentang anak muda yang menemukan kenyamanan dalam tradisi, dan sekaligus memberi napas baru buat para penjual jamu tradisional.
Artikel Terkait
Dasco Serahkan Kendali Penanganan Bencana Sumatera ke Tito
Pasca-Bencana Aceh, Empat Masalah Pokok Jadi Fokus Rapat Koordinasi
Program Beasiswa S1 Guru 2026: Pengalaman Mengajar Dikonversi Jadi SKS
DPR dan Pemerintah Gelar Rapat Lanjutan untuk Pemulihan Aceh