Dia punya favorit pribadi, yaitu kunir asem dan beras kencur. Riris bilang rasanya itu pas banget di lidahnya.
Sebagai perantau asal Medan yang sekarang tinggal di Jakarta, Riris bersyukur masih bisa nemuin penjual jamu keliling. Di tengah gemerlapnya kehidupan ibu kota, jamu jadi pilihan yang cocok buatnya. Soalnya, dia nggak terlalu cocok sama tren minuman kekinian yang biasanya dijual di kafe.
Bukan cuma kopi, minuman beralkohol juga bukan dunianya. "Sama juga kalau minuman keras, walaupun cuman bir yang 0, berapa persen doang mesti badanku gatal-gatal merah gitu," lanjut Riris sambil tertawa. "Emang sangat tidak Gen Z gaul."
Jadi begitulah. Di balik tren party jamu yang kelihatannya cuma seru-seruan, ada cerita tentang anak muda yang menemukan kenyamanan dalam tradisi, dan sekaligus memberi napas baru buat para penjual jamu tradisional.
Artikel Terkait
Vietnam Undang Paus Leo XIV, Kunjungan Bersejarah Diantisipasi
Wamenkominfo: AI Kunci Genjot Produktivitas dan Keberlanjutan Pertanian
Letnan Jepang Bertahan di Hutan Filipina 29 Tahun Usai Perang Dunia II
Bareskrim Lacak Aset Tersangka Penipuan Dana Syariah Rp2,4 Triliun