Tim pertolongan pertama di lokasi langsung bertindak. Mereka mencuci luka sengatan si balita dengan cuka, sebuah penanganan standar untuk sengatan ubur-ubur. Dari sana, korban sempat dibawa ke klinik sebelum akhirnya dirujuk ke rumah sakit di Langkawi. Namun begitu, kondisinya mengharuskan dia dipindahkan lagi ke rumah sakit yang lebih besar di daratan utama Malaysia.
Di sisi lain, otoritas Malaysia menyikapi insiden ini dengan menyatakan bahwa keberadaan ubur-ubur di perairan Langkawi sebenarnya dalam tingkat yang moderat. Meski demikian, kasus ini tentu saja memicu kekhawatiran, terutama di kalangan wisatawan.
Yang cukup mengejutkan, keluarga korban memilih untuk tidak menempuh jalur hukum. Melalui laporan New Straits Times, disebutkan bahwa orang tua Vladimir tidak berencana mengambil tindakan hukum apa pun. Mereka justru berharap musibah yang menimpa putra mereka bisa menjadi pengingat bagi semua orang tentang bahaya yang bisa ditimbulkan oleh ubur-ubur kubus. Sebuah pelajaran yang mahal harganya.
Artikel Terkait
Fadli Zon dan Rhoma Irama Pacu Usulan Dangdut ke UNESCO
KAI Kecaman Keras Penusukan Advokat oleh Debt Collector di Tangerang
Warga Permata Hijau Laporkan Proyek Padel ke Polisi Gangguan Ketentraman
Konflik Digital SEAblings vs KNetz Jadi Alarm Bagi Soft Power Korea