Gorontalo Waspada: 412 Remaja Terjaring dalam Lonjakan Kasus HIV

- Kamis, 20 November 2025 | 15:45 WIB
Gorontalo Waspada: 412 Remaja Terjaring dalam Lonjakan Kasus HIV
Update Kasus HIV di Gorontalo

Kasus HIV di Gorontalo terus menunjukkan tren yang mengkhawatirkan. Menjelang tahun 2025, angka pengidap Human Immunodeficiency Virus (HIV) di provinsi ini dilaporkan mencapai 1.363 kasus. Angka ini naik cukup signifikan, bertambah 106 kasus sejak akhir 2024.

Yang cukup memprihatinkan, dari total kasus tersebut, 412 di antaranya ditemukan pada kelompok remaja berusia 15 hingga 24 tahun. Idah Syahidah Rusli Habibie, Wakil Gubernur Gorontalo, mengungkapkan hal ini dalam sebuah acara validasi data HIV/AIDS belum lama ini di Kota Gorontalo.

Menurutnya, risiko penularan tertinggi berasal dari hubungan seksual sesama jenis, yang tercatat sebanyak 591 kasus. "Ini harus jadi perhatian serius," tegas Idah. Ia lantas menekankan betapa pentingnya peran semua pihak, terutama orang tua dan lingkungan, dalam upaya pencegahan.

Di sisi lain, persoalan seperti penyimpangan seksual, perilaku seks bebas, hingga kasus pelecehan yang melibatkan anak di bawah umur disebut-sebut sebagai penyumbang utama lonjakan angka HIV. "Tolong, ini jadi atensi semua pihak, khususnya keluarga dan lingkungan sekitar," pesannya.

Soal penanganan di fasilitas kesehatan, mulai dari klinik, puskesmas, hingga rumah sakit, Wagub Idah menekankan pentingnya validasi data. Langkah ini harus diikuti dengan penanganan yang berkelanjutan. Ia mengakui, sering kali ada kasus yang tidak terlapor, sehingga jumlah sebenarnya sulit terdeteksi.

"Validasi data sangat penting," ujarnya. Dengan begitu, pihaknya bisa tahu seberapa luas persebaran virus ini dan segera mengambil tindakan pengobatan.

Instansi terkait seperti Dinas PPPA dan Dinas Kesehatan pun diharapkan bisa meningkatkan layanan dan edukasi, terutama untuk kalangan anak dan remaja. Idah berharap, masalah HIV/AIDS ini benar-benar mendapat perhatian dari berbagai lapisan masyarakat.

Terakhir, ia mengingatkan bahwa pencegahan perilaku seks sesama jenis harus dimulai dari lingkup keluarga. Jika ada anak yang menunjukkan perilaku menyimpang, harus segera ditegur dan dicegah sedini mungkin.

Editor: Novita Rachma

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar