Korban Tertimbun Longsor Banjarnegara Diperkirakan 27 Orang, Operasi SAR Berlanjut
Bencana tanah longsor yang melanda Kabupaten Banjarnegara, Jawa Tengah, masih menyisakan duka mendalam. Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menyatakan bahwa operasi pencarian korban yang tertimbun material longsor masih terus dilakukan hingga saat ini.
Berdasarkan data terbaru dari BNPB, diperkirakan terdapat 27 warga yang masih hilang dan tertimbun material longsor. Informasi ini disampaikan langsung oleh Kepala Pusat Data, Informasi dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Abdul Muhari, dalam keterangan persnya.
Tim SAR Terus Berupaya di Lokasi Bencana Longsor Banjarnegara
Kejadian longsor yang mengguncang Desa Pandanarum, Kecamatan Pandanarum, Banjarnegara, terjadi pada hari Sabtu sore. Hingga kini, tim gabungan Search and Rescue (SAR) masih dikerahkan untuk melakukan operasi penyelamatan di lokasi yang terdampak bencana alam ini.
Selain fokus pada pencarian korban tertimbun, upaya kemanusiaan juga berhasil mengevakuasi 34 orang warga yang berada di kawasan hutan sekitar area longsoran. Evakuasi ini dilakukan untuk mencegah korban jiwa yang lebih banyak.
Dampak Kerusakan dan Korban Jiwa Longsor Banjarnegara
Bencana alam ini telah menelan korban jiwa. Laporan terakhir menyebutkan dua warga meninggal dunia dan dua lainnya mengalami luka-luka. Korban luka telah mendapatkan perawatan medis di RSUD Banjarnegara dan Puskesmas setempat.
Dampak sosial dari bencana ini juga signifikan, dengan 823 warga terpaksa mengungsi. Lokasi pengungsian tersebar di tiga titik, yaitu Kantor Kecamatan Pandanarum, GOR Desa Beji, dan gedung haji Desa Pringamba. Bencana longsor juga menyebabkan kerusakan parah pada 30 unit rumah serta lahan pertanian dan perkebunan milik warga.
Penyebab Tanah Longsor di Banjarnegara
Berdasarkan analisis sementara, tanah longsor di Banjarnegara dipicu oleh kombinasi faktor cuaca dan kondisi geologis. Hujan dengan intensitas lebat yang terjadi di Kawasan Desa Situkung, Kecamatan Pandanarum, diduga menjadi pemicu utama. Faktor pendukung lainnya adalah kondisi tanah yang labil, yang akhirnya menyebabkan tebing longsor dan menimbun kawasan permukiman serta area pertanian.
Kejadian ini mengingatkan masyarakat akan pentingnya kewaspadaan terhadap bahaya tanah longsor, terutama di daerah dengan topografi berbukit dan lereng curam selama musim penghujan.
Artikel Terkait
Pria Kurus Kering Ditemukan di Lereng Gunung Salak, Diduga Hilang 3-4 Tahun
Kebijakan Bahasa Inggris Wajib di SD Dinilai Berpotensi Perlebar Ketimpangan Pendidikan
Kejagung Geledah Kantor Badan Gizi Nasional Sehari Usai Kepala BGN Dicopot
President University Masuk 100 Besar Dunia di 18 Kategori Inovasi WURI 2026