Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengalami koreksi tajam pada perdagangan Rabu (3/6/2026), setelah sehari sebelumnya berhasil mencatat penguatan sebesar 1,11 persen. Data dari Bursa Efek Indonesia (BEI) mencatat, pada pukul 09.43 WIB, indeks terkoreksi 1,29 persen ke level 6.115,32, dengan nilai transaksi mencapai Rp5,35 triliun dan volume perdagangan sebanyak 8,18 miliar saham.
Mayoritas saham yang diperdagangkan berada di zona merah. Sebanyak 539 saham mengalami penurunan, sementara hanya 125 saham yang berhasil mencatatkan kenaikan, dan 295 saham lainnya stagnan. Kondisi ini menunjukkan tekanan jual yang cukup dominan di awal sesi perdagangan.
Analis dari BRI Danareksa Sekuritas menilai, pelemahan indeks pada hari itu dipicu oleh aksi ambil untung atau profit taking yang terjadi pada sejumlah saham konglomerasi dan saham berkapitalisasi besar. Fenomena ini muncul di tengah hadirnya beberapa sentimen makro yang kurang mendukung pergerakan pasar.
Dari sisi fundamental ekonomi, surplus neraca perdagangan Indonesia pada April tercatat menyusut cukup tajam. Kondisi ini dinilai mencerminkan melemahnya kontribusi sektor eksternal terhadap pertumbuhan ekonomi nasional. Sementara itu, tingginya porsi kredit yang belum dicairkan atau undisbursed loan juga menjadi indikasi bahwa dunia usaha masih cenderung menahan ekspansi di tengah ketidakpastian.
Tekanan tambahan datang dari pasar energi global. Harga minyak dunia yang masih relatif tinggi akibat konflik di Timur Tengah berpotensi meningkatkan tekanan inflasi sekaligus membebani nilai tukar rupiah. Pada Selasa (2/6), rupiah tercatat berada di level Rp17.858 per dolar Amerika Serikat, masih bertahan di kisaran level terendah sepanjang masa.
Di sisi lain, sejumlah indikator justru menunjukkan kondisi ekonomi domestik mulai membaik. BRI Danareksa mencatat, indeks PMI Manufaktur Indonesia naik ke level 50,0 pada Mei, dari sebelumnya 49,1 pada bulan April. Kenaikan ini menandakan aktivitas sektor manufaktur kembali berada di zona stabil setelah sempat mengalami kontraksi. Perbaikan juga terlihat dari meningkatnya pesanan baru, yang mengindikasikan permintaan domestik mulai pulih secara bertahap.
Secara teknikal, BRI Danareksa menilai tren IHSG masih berada dalam fase bearish. Area support terdekat berada pada kisaran 6.060 hingga 5.960, sementara resistance berada di level 6.200 dan berlanjut ke area 6.290 hingga 6.365. Kendati masih dibayangi tren penurunan, peluang pemantulan teknikal atau technical rebound dinilai tetap terbuka selama IHSG mampu bertahan di atas level 6.060.
Sebaliknya, apabila indeks menembus level 5.960, risiko pelemahan menuju area 5.800 hingga 5.900 berpotensi kembali meningkat. Para pelaku pasar diimbau untuk mencermati pergerakan indeks dan mencermati risiko yang ada sebelum mengambil keputusan investasi.
Artikel Terkait
Kejagung Geledah Kantor BGN, Operasional Terhenti Usai Tiga Pimpinan Dicopot Presiden
Kejaksaan Agung Geledah Kantor Badan Gizi Nasional Sehari Setelah Kepala BGN Dicopot
AHY Dorong Diaspora Indonesia di Rusia Jadi Mitra Strategis Pembangunan Nasional
Pria Kurus Kering Ditemukan di Lereng Gunung Salak, Diduga Hilang 3-4 Tahun