Hamas Perluas Kendali di Jalur Gaza, Rencana Masa Depan Tertunda
Kelompok Hamas dilaporkan sedang memperkuat pengaruhnya di wilayah Jalur Gaza. Perkembangan ini terjadi bersamaan dengan tertundanya implementasi rencana masa depan untuk daerah kantong Palestina yang diusung oleh pemerintahan Amerika Serikat.
Berdasarkan keterangan dari belasan warga Gaza yang dihimpun pada Jumat (14/11/2025), muncul keraguan serius mengenai komitmen Hamas untuk benar-benar menyerahkan kekuasaan yang dipegangnya selama ini. Laporan ini semakin menguatkan pengamatan mengenai konsolidasi kekuatan kelompok tersebut.
Warga Gaza mengungkapkan bahwa Hamas telah mulai menerapkan kebijakan pengendalian harga berbagai komoditas, termasuk harga ayam. Selain itu, kelompok ini juga diketahui telah memberlakukan pungutan pajak untuk produk tertentu seperti rokok.
Pasca dimulainya gencatan senjata pada 10 Oktober, Hamas secara aktif membangun kembali struktur kekuasaannya di daerah-daerah yang sebelumnya ditinggalkan oleh pasukan militer Israel. Kelompok ini dilaporkan menindak tegas warga Palestina yang dituding melakukan kolaborasi dengan Israel, pencurian, maupun berbagai tindak kriminal lainnya.
Meskipun komunitas internasional terus mendesak Hamas untuk melakukan pelucutan senjata dan meninggalkan kekuasaan, kelompok yang didukung oleh Iran ini belum menunjukkan kesepakatan mengenai pihak mana yang akan mengambil alih pemerintahan Gaza.
Kondisi terkini menunjukkan bahwa setidaknya sepuluh warga Gaza, termasuk tiga orang pedagang, mengakui semakin merasakan cengkeraman kendali Hamas dalam kehidupan sehari-hari. Otoritas Hamas disebutkan memonitor semua barang yang masuk ke Jalur Gaza, mengenakan pajak untuk impor barang privat seperti bahan bakar dan rokok, serta memberikan sanksi denda kepada pedagang yang dianggap menetapkan harga di atas ketentuan.
Artikel Terkait
Pemilik WO Marwah di Jakarta Timur Tersangka, Tipu 58 Calon Pengantin hingga Rp 2,6 Miliar
390 Jemaah Haji Kloter Pertama Banten Tiba di Bandara Soekarno-Hatta Selasa Pagi
Pria Ngaku Sultan Nusantara dan Keturunan Sultan Pemilik Lahan Sawit, Tipu Puluhan Jemaah Pengajian di Banyumas hingga Ratusan Juta
Survei Global: 67 Persen Responden Khawatir AI Bakal Hilangkan Banyak Pekerjaan, Indonesia Paling Cemas