Pengaruh Pelatihan Israel pada NYPD: Dampak Pengawasan & Kontroversi

- Rabu, 12 November 2025 | 08:20 WIB
Pengaruh Pelatihan Israel pada NYPD: Dampak Pengawasan & Kontroversi
Fakta Hubungan NYPD dan Israel: Pelatihan dan Dampaknya

Mengungkap Keterkaitan NYPD dengan Israel: Fakta Pelatihan dan Dampaknya

Hubungan antara Departemen Kepolisian New York (NYPD) dengan Israel bukanlah sekadar isu politik, melainkan sebuah realitas yang terdokumentasi dengan jelas. Keterkaitan ini bersifat mendalam dan meluas ke ratusan departemen kepolisian di seluruh Amerika Serikat.

Bukti-Bukti Nyata Keterkaitan NYPD dan Israel

Fakta hubungan ini dapat dilacak melalui berbagai dokumen resmi termasuk rencana perjalanan, anggaran, kontrak vendor, dan pertukaran email. Yang lebih penting, dampaknya terlihat dalam metode pengawasan yang diterapkan terhadap warga biasa di jalanan.

Sejarah dan Perkembangan Hubungan

Pasca peristiwa 11 September, para pemimpin NYPD dan departemen kepolisian lainnya mulai rutin menghadiri seminar kontraterorisme yang diselenggarakan Israel. Program-program seperti Seminar Kontra-Terorisme Nasional Liga Anti-Pencemaran Nama Baik, Program Pertukaran Penegakan Hukum JINSA, dan GILEE dari Universitas Negeri Georgia telah menjadi jaringan kerja yang mapan.

NYPD secara resmi mengirim perwira senior ke Israel untuk membangun hubungan berkelanjutan, berbagi intelijen, dan mengadopsi apa yang disebut sebagai "praktik terbaik". Namun dalam implementasinya, hal ini berdampak pada metode pengawasan terhadap komunitas Muslim di New York melalui Unit Demografi yang melakukan pemantauan masjid dan pemetaan lingkungan.

Skala Nasional Keterkaitan Ini

Keterkaitan ini tidak terbatas pada New York saja. Pada Oktober 2023, delegasi NYPD berada di Israel untuk pelatihan kontraterorisme ketika perang di Gaza meletus. Pada September 2025, lebih dari selusin pejabat polisi dari Negara Bagian New York mengikuti program pelatihan di Israel.

Puluhan kota besar Amerika seperti Los Angeles, Atlanta, Chicago, Boston, Miami-Dade, Seattle, Oakland, Austin, dan Baton Rouge juga terlibat dalam berbagai program serupa. Bahkan lembaga federal seperti ICE, DHS, dan U.S. Marshals turut serta dalam program pertukaran ini.

Dampak pada Metode Kepolisian

Hubungan ini tidak hanya terbatas pada seminar. Terjadi penyebaran taktik kepolisian termasuk kerangka "polisi sebagai pejuang" dan pandangan bahwa protes adalah masalah keamanan yang harus diredam daripada tindakan demokratis yang perlu difasilitasi.

Teknologi pengawasan seperti kotak ekstraksi telepon forensik, analitik video, dan sistem prediktif juga menyebar dari Israel ke departemen kepolisian Amerika.

Dokumentasi Internal yang Bocor

Arsip penegak hukum yang diretas (dikenal sebagai BlueLeaks) mengungkap pengarahan bermerek IDF, presentasi dari pusat studi militer Israel, dan laporan lembaga pemikir yang disebarkan melalui pusat fusi AS. Materi-materi ini memberikan perspektif tunggal tentang Palestina dan metode penanganan protes.

Dampak pada Masyarakat

Masyarakat yang mengalami pemetaan Muslim di New York atau terlibat dalam protes pasca-Ferguson merasakan langsung dampak dari metode kepolisian ini. Taktik seperti "kettle" dan manajemen protes berevolusi untuk mengendalikan ruang publik dan narasi.

Sistem yang Terinstitusionalisasi

Keterkaitan ini telah menjadi sistem yang terinstitusionalisasi melalui anggaran perjalanan yang disetujui dewan kota, dana dari yayasan kepolisian, dan koordinasi dengan lembaga nirlaba. Vendor teknologi pengawasan memasang peralatan mereka, sementara pusat fusi memberikan legitimasi pada metode yang digunakan.

Dampaknya paling dirasakan oleh warga New York dari komunitas kulit hitam, Latino, Muslim, imigran, dan masyarakat miskin yang menghadapi konsekuensi langsung dari praktik pengawasan ini.

Editor: Hendra Wijaya

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar