Kaka Abner Bleskadit, Ketua Pemuda Adat Sub Suku Sfa, menjelaskan dampak penetapan hutan negara. "Pembangunan gereja dan sekolah terhambat karena status kawasan hutan," jelasnya. Pembatasan ini menghambat pemenuhan kebutuhan dasar masyarakat.
Ritual adat di Misyarmase menjadi simbol perlawanan budaya masyarakat Na-Sfa. Upacara tradisional ini memperkuat narasi spiritual antara manusia dan hutan. Masyarakat adat menekankan pentingnya hutan sebagai warisan generasi mendatang.
Konflik muncul dari penetapan hutan konservasi tanpa konsultasi dengan pemilik adat. Masyarakat Na-Sfa menuntut pengakuan hak tradisional atas hutan adat mereka. Mereka meminta negara menghormati kesatuan masyarakat hukum adat beserta hak-hak tradisionalnya.
Perjuangan masyarakat adat Na-Sfa terus berlanjut melalui ritual dan tradisi. Pesan mereka jelas: hutan adalah identitas dan kehidupan yang harus diakui. Warisan leluhur ini akan terus dipertahankan untuk generasi masa depan.
Artikel Terkait
Kuasa Hukum Jusuf Kalla Laporkan Lima Pihak ke Bareskrim Terkait Tudingan Pendanaan Kasus Ijazah Jokowi
Ritual Mattompang Arajang Warnai Peringatan Hari Jadi Bone ke-696
HUT Bone ke-696 Jadi Momentum Genjot Pembangunan Infrastruktur
Kiai Ilyas Desak Penyelesaian Kasus KM 50 dan Vina dalam Istighotsah Kubro Cirebon