Kisah Sukses Budidaya Tanaman Pacar Air di Surabaya: Manfaat & Peluang Bisnis

- Selasa, 11 November 2025 | 07:06 WIB
Kisah Sukses Budidaya Tanaman Pacar Air di Surabaya: Manfaat & Peluang Bisnis
Budidaya Tanaman Pacar Air di Surabaya - Manfaat dan Kisah Sukses

Budidaya Tanaman Pacar Air: Solusi Atas Kelangkaan dan Manfaat Kesehatannya

Tanaman pacar air, atau yang dikenal dengan nama ilmiah Impatiens balsamina L., adalah salah satu tanaman hias yang populer secara global. Di Surabaya, keberadaan tanaman ini terbilang langka, padahal khasiatnya untuk kesehatan sangat beragam, mulai dari perawatan kulit hingga meredakan gejala rematik.

Kelangkaan inilah yang memotivasi seorang siswi Sekolah Dasar (SD) di Surabaya, Isvara Nareswari Aryanto, untuk membudidayakannya. Melalui sebuah proyek lingkungan hidup yang diadakan oleh organisasi Tunas Hijau, Isvara berhasil mengembangkan lebih dari 1.500 tanaman pacar air.

Isvara memulai inisiatif budidayanya pada bulan Mei, dengan bibit awal yang diperoleh dari keluarganya di Jombang. Saat ini, ribuan tanaman tersebut telah ditanam di berbagai lokasi, termasuk sekitar rumahnya, area sekolah, serta beberapa kampung yang menjadi binaan Tunas Hijau.

Berdasarkan informasi yang dikumpulkannya, Isvara mengetahui bahwa tanaman pacar air memiliki sifat obat yang telah lama dimanfaatkan dalam pengobatan tradisional untuk berbagai penyakit. Tidak hanya berhenti pada budidaya, ia juga berinovasi dengan mengolah bunga pacar air menjadi minuman herbal.

Minuman herbal tersebut dikemas dalam botol plastik ukuran sedang dan dijual dengan harga Rp 8.000 per botol. Hingga saat ini, Isvara telah berhasil menjual sekitar 200 botol, menunjukkan tingginya minat masyarakat terhadap produk herbal alami.

Meski telah mencapai kesuksesan, perjalanan budidaya tanaman pacar air tidak lepas dari tantangan. Isvara mengungkapkan bahwa cuaca yang tidak menentu, seperti panas ekstrem yang diikuti hujan, menjadi kendala utama dalam perawatan tanaman. Selain itu, siklus hidup tanaman pacar air yang relatif pendek, yaitu sekitar tiga bulan, mengharuskannya terus memperbarui tanaman secara berkala.

Dukungan dari orang tua, guru, dan teman-teman menjadi faktor pendorong utama yang membuat Isvara tetap optimis melanjutkan proyek lingkungan ini. Ia menyatakan rasa syukurnya atas perkembangan proyek ini, yang tidak hanya meningkatkan jumlah tanaman, tetapi juga melibatkan partisipasi warga dan menumbuhkan kesadaran akan pentingnya menjaga lingkungan secara berkelanjutan.

Editor: Lia Putri

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar