Thailand Hentikan Perjanjian Damai dengan Kamboja: Dampak dan Kronologi Insiden Ranjau

- Senin, 10 November 2025 | 16:24 WIB
Thailand Hentikan Perjanjian Damai dengan Kamboja: Dampak dan Kronologi Insiden Ranjau

Thailand Hentikan Perjanjian Damai dengan Kamboja Pasca Insiden Ranjau

Pemerintah Thailand secara resmi menghentikan perjanjian damai dengan Kamboja. Keputusan ini diambil menyusul insiden ledakan ranjau darat di kawasan perbatasan yang melukai dua prajurit Thailand.

Latar Belakang Perjanjian Damai Thailand-Kamboja

Perjanjian perdamaian antara Thailand dan Kamboja sebelumnya ditandatangani dalam Konferensi Tingkat Tinggi ASEAN di Malaysia pada bulan Oktober. Kesepakatan bersejarah ini bertujuan mengakhiri ketegangan di perbatasan yang sempat memicu konflik bersenjata pada Juli lalu. Konflik sebelumnya telah mengakibatkan puluhan korban jiwa dan ratusan ribu warga kehilangan tempat tinggal.

Kronologi Insiden Ranjau di Perbatasan

Menurut laporan militer Thailand, ledakan ranjau terjadi di kawasan Provinsi Sisaket, yang berbatasan langsung dengan Kamboja. Satu tentara menderita luka serius di kaki, sementara prajurit lainnya mengalami cedera dada akibat dampak ledakan. Insiden inilah yang memicu keputusan penghentian perjanjian damai.

Dampak Penghentian Perjanjian Damai

Juru bicara Pemerintah Thailand, Siripong Angkasakulkiat, menegaskan bahwa penghentian perjanjian ini juga membatalkan rencana pembebasan 18 tentara Kamboja yang sedang ditahan di Thailand. Langkah ini menandai kemunduran dalam proses perdamaian kedua negara.

Respons dan Penyangkalan dari Kamboja

Pihak Kamboja hingga kini belum memberikan pernyataan resmi mengenai insiden ranjau terbaru ini. Namun, dalam kesempatan terpisah, Kementerian Pertahanan Kamboja menegaskan komitmen mereka untuk menjaga perdamaian. Kamboja juga secara konsisten menyangkal tuduhan dari Thailand mengenai pemasangan ranjau darat baru di sepanjang wilayah perbatasan.

Situasi ini mengindikasikan meningkatnya kembali ketegangan diplomatik dan keamanan antara kedua negara tetangga di Asia Tenggara tersebut.

Editor: Melati Kusuma

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar