Kisah Danar Dwi Putra, Kolektor Muda yang Pelihara 85 Wayang Kuno hingga Usia 93 Tahun

- Jumat, 07 November 2025 | 08:00 WIB
Kisah Danar Dwi Putra, Kolektor Muda yang Pelihara 85 Wayang Kuno hingga Usia 93 Tahun

Hari Wayang Nasional 7 November: Makna dan Kisah Kolektor Wayang Kuno Surabaya

Indonesia memperingati Hari Wayang Nasional setiap tanggal 7 November. Penetapan hari penting ini tidak lepas dari pengakuan dunia terhadap wayang sebagai warisan budaya. Tepatnya pada 7 November 2003, UNESCO menetapkan wayang sebagai Warisan Budaya Takbenda Dunia, mengukuhkannya sebagai pilar utama seni budaya bangsa.

Kisah Danar Dwi Putra, Kolektor Muda Wayang Kuno dari Surabaya

Di Surabaya, kecintaan pada wayang diwujudkan secara nyata oleh Danar Dwi Putra (35). Pemuda yang tinggal di kawasan Plampitan ini bukan hanya penikmat, tetapi juga seorang kolektor wayang kuno. Hingga kini, ia telah mengumpulkan sekitar 85 wayang kuno dalam koleksinya.

Wayang Tertua Koleksi Danar yang Berusia Hampir 1 Abad

Dari puluhan wayang yang dimilikinya, terdapat sepasang wayang yang sangat berharga karena dibuat pada tahun 1932. Artinya, wayang tersebut telah berusia 93 tahun dan hampir menyentuh satu abad. Kedua wayang itu adalah perwujudan dari Batara Guru dan Batari Durga, sepasang suami istri dalam dunia pewayangan.

Menurut Danar, Batara Guru adalah pemimpin para dewa, sementara Batari Durga adalah Dewi Uma yang dikutuk menjadi raksasa dan akhirnya menjadi ratu makhluk halus di Setra Gandamayit.

Cara Mengidentifikasi Wayang Kuno dan Perbedaannya dengan Wayang Modern

Tidak semua koleksi wayangnya diketahui persis tahun pembuatannya. Namun, Danar menjelaskan cara mengidentifikasi wayang kuno melalui bahan dan pewarna yang digunakan.

"Wayang zaman dulu kebanyakan bahannya dari kulit kerbau dan memakai cat khusus yang sudah tidak diproduksi lagi. Sedangkan wayang yang baru memakai cat sintetis," terang Danar. Mayoritas koleksinya dibuat sebelum tahun 1990, dengan hanya satu dua wayang dari awal tahun 2000-an.

Awal Mula Ketertarikan dan Perburuan Wayang Jawa Timuran

Ketertarikan Danar pada wayang bermula pada 2019, saat menghadiri pameran wayang di Taman Budaya Cak Durasim, Surabaya. Seorang dalang muda memberinya saran untuk membeli wayang yang bagus jika memungkinkan. Sejak saat itulah ia mulai berburu wayang-wayang kuno, khususnya wayang Jawa Timuran (wayang Jek Dong) yang sudah langka.

Ia pun mempelajari perbedaan wayang Jawa Timur dengan wayang Solo. "Kalau wayang Solo wajahnya hitam, sedangkan wayang Jawa Timur cenderung merah," ujarnya.

Tips Merawat dan Menyimpan Wayang Kuno yang Tepat

Sebagai ilustrator digital, Danar menyimpan puluhan wayang kunonya dengan sangat hati-hati di kamarnya. Ia tidak memajangnya secara sembarangan.

"Kalau dipajang harus cari tembok atau dinding yang benar-benar kering karena wayang rentan berjamur. Lebih baik ditumpuk jadi satu dengan posisi wayang yang paling sedikit ukirannya diletakkan paling bawah," tuturnya.

Untuk perawatan, Danar membagikan kiatnya: "Seminggu sekali wayang diangin-anginkan agar tidak lembab. Saat diangin-anginkan, jangan sampai terkena sinar matahari langsung."

Komentar