Bus Maut di Exit Tol Banyumanik: Sopir Cadangan Diduga Gagal Kendalikan Kecepatan

- Selasa, 23 Desember 2025 | 03:42 WIB
Bus Maut di Exit Tol Banyumanik: Sopir Cadangan Diduga Gagal Kendalikan Kecepatan

Bus kuning PO Cahaya Trans itu melaju terlalu kencang. Oleng, lalu terguling. Dalam sekejap, belasan nyawa melayang dalam kecelakaan fatal di Simpang Susun Exit Tol Banyumanik, Semarang, dini hari tadi.

Nomor polisi B 7201 IV masih terpasang jelas di badan bus yang hancur berantakan. Saat ini, polisi masih mendalami duduk perkaranya. Peristiwa nahas ini terjadi tepat pada Senin (22/12) lewat tengah malam, sekitar pukul 00.30 WIB. Bus yang berangkat dari Bekasi dengan tujuan Yogyakarta itu mengangkut 34 orang penumpang. Selain 16 orang yang meninggal, sisanya mengalami luka-luka termasuk sang pengemudi.

Sopir Diamankan, Hasil Tes Narkoba Negatif

Sopirnya adalah Gilang, 22 tahun. Dia sudah diamankan dan menjalani pemeriksaan. Kabar terbaru, hasil tes narkoba pengemudi muda itu negatif.

“Hasil pemeriksaan darah memang negatif. Saat ini sedang dilakukan pemeriksaan analisis oleh pihak medis. Kita masih menunggu hasilnya dan proses masih berjalan,”

kata Kabid Humas Polda Jateng, Kombes Artanto, Senin (22/12).

Ternyata, Dia Sopir Cadangan

Yang menarik, Gilang ternyata bukan sopir utama. Dia adalah sopir cadangan yang baru mengambil alih kemudi di Subang, Jawa Barat.

“Ini sopir pengganti. Saat berangkat dari Bogor menuju Jogja, bus sempat berhenti di Subang untuk ganti sopir,”

jelas Artanto.

Penyelidikan masih terus digelar. Tim dari Satlantas Polrestabes Semarang akan melakukan olah TKP untuk mengungkap titik terang. “Masih berproses. Kita tunggu hasil pemeriksaan dan lakukan olah TKP,” sambungnya.

Dugaan Penyebab: Gagal Adaptasi Kecepatan?

Menurut Jusri Pulubuhu, Instruktur Keselamatan Berkendara dari Jakarta Defensive Driving Consultant (JDDC), kecelakaan ini kemungkinan besar dipicu kegagalan pengemudi mengontrol kecepatan. Istilah teknisnya, Speed Adaptation Failure.

”Speed adaptation failure biasa terjadi pada pengemudi yang sudah berjam-jam di tol. Begitu exit, mereka gagal beradaptasi dengan kecepatan yang seharusnya,” kata Jusri.

Bobot bus yang berat dan titik gravitasinya yang tinggi membuat kendaraan jenis ini rentan oleng. Apalagi di lokasi kejadian, yaitu simpang susun exit tol dengan tikungan tajam dan jalan hanya dua lajur. Jusri menduga ada kesalahan antisipasi.

”Perlambatan yang dilakukan tidak sesuai kondisi. Seharusnya, driver melakukan pengereman di lurusan sebelum tikungan, bukan saat sedang menikung,”

tegasnya.

“Kecelakaan di exit tol sering terjadi karena sinyal di otak pengemudi lambat beradaptasi. Mereka pikir kecepatannya sudah cukup, tapi nyatanya tidak,” tambah Jusri.

Kesaksian Korban yang Selamat

Salah satu penumpang, Sutiadi (67), masih bisa menceritakan detik-detik mengerikan itu. Saat kejadian, ia masih terjaga. Bus melaju kencang, bahkan saat memasuki jalan menurun dan tikungan.

“Perasaan saya itu tambah kencang, padahal jalan turun. Biasanya ada perlambatan, ini nggak ada. Pas tikungan itu oleng lalu guling,”

kenang Sutiadi.

Beruntung, pria asal Boyolali itu terlempar keluar dan selamat, meski wajah dan kakinya terluka. “Rencana pulang ke Boyolali dari Bogor. Nggak sempat nolong yang lain, kaki kena kaca,” ujarnya.

Daftar Korban

Korban meninggal dunia:

1. Sadimin (57), Klaten;
2. Srihono (53), Klaten;
3. Listiana (44), Klaten;
4. Sugimo (62), Boyolali;
5. Haryadin (43), Jakarta Timur;
6. Mutiara (19), Sleman;
7. Saguh (62), Bogor;
8. Wahyu (26), Boyolali;
9. Ngatiyem (48), Boyolali;
10. Erna (53), Bogor;
11. Yanto (47), Klaten;
12. Anis (36), Boyolali;
13. Noviani (31), Bogor;
14. Anih (56), Bogor;
15. Dwi (47), Tangerang Selatan;
16. Endah (48), Sleman.

Korban luka-luka:

Termasuk pengemudi Gilang (22), serta 16 penumpang lain seperti Robi Sugianto (51), Purwoko (50), Marno (30), Sutiadi Sarwono (67), Nyi Mas Jihan (26), dan lainnya yang berasal dari berbagai daerah seperti Bogor, Klaten, Boyolali, hingga Sumatera Barat.

Komentar