Informasi terkait bunuh diri dalam artikel ini tidak ditujukan untuk menginspirasi siapa pun untuk melakukan tindakan serupa. Bila Anda merasakan gejala depresi dengan kecenderungan berupa pemikiran untuk bunuh diri, segera konsultasikan persoalan Anda ke pihak-pihak yang dapat membantu, seperti psikolog, psikiater, ataupun klinik kesehatan mental.
MURIANETWORK.COM - Seorang siswa Sekolah Dasar berusia 10 tahun di Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur, meninggal dunia setelah diduga melakukan gantung diri. Peristiwa memilukan yang terjadi di Kecamatan Jerebuu ini diduga dipicu oleh tekanan ekonomi keluarga yang membuat korban, berinisial YBR, tidak mampu membeli buku tulis dan pulpen. Tragedi ini telah menarik perhatian serius dari pemerintah daerah dan dinas terkait untuk menelusuri lebih dalam kronologi serta konteks persoalan di baliknya.
Dugaan Pemicu dan Kondisi Keluarga
Berdasarkan informasi awal, YBR yang masih duduk di kelas IV SD negeri itu disebut mengalami kekecewaan mendalam karena sang ibu, seorang janda, tidak sanggup memenuhi kebutuhan sekolahnya yang paling dasar. Kondisi ekonomi keluarga yang serba terbatas menjadi faktor kunci dalam insiden ini. Sebelum kejadian, siswa-siswa di sekolah tersebut, termasuk YBR, diketahui kerap diingatkan mengenai cicilan uang sekolah.
Klariļ¬kasi Soal Tunggakan dan Sistem Pembayaran
Menanggapi isu yang berkembang, otoritas setempat memberikan penjelasan rinci mengenai mekanisme pembayaran di sekolah. Kepala UPTD Perlindungan Perempuan dan Anak Dinas Pemberdayaan Masyarakat, Desa, Pemberdayaan, Perempuan, dan Perlindungan Anak (DPMDP3A) Ngada, Veronika Milo, menyatakan bahwa total biaya sekolah untuk kelas IV adalah Rp 1.220.000 per tahun, dengan sistem cicilan.
Veronika menjelaskan, orang tua YBR telah melunasi pembayaran tahap pertama untuk semester I sebesar Rp 500.000. Sisa yang harus dibayar pada semester II adalah Rp 720.000. "Itu hanya untuk kelas IV. Itu bukan dikatakan tunggakan karena dia masih tahun berjalan. Di sekolah itu bayarnya cicil, tahap pertama semester satu sebesar Rp 500 ribu dan itu sudah mereka lunasi. Jadi untuk semester II ini membayar yang sisanya ini (Rp 720 ribu)," ujarnya.
Hasil Pengecekan Langsung ke Sekolah
Veronika dan timnya telah melakukan kunjungan dan verifikasi langsung ke sekolah tempat YBR belajar pada Selasa (3/2). Mereka menemui kepala sekolah, guru, keluarga almarhum, serta warga sekitar untuk mendapatkan gambaran utuh. Salah satu poin kritis yang ditelusuri adalah adanya dugaan ancaman atau tekanan dari pihak sekolah terhadap siswa yang belum melunasi pembayaran.
Dari hasil pemeriksaan lapangan, tim tidak menemukan indikasi pengusiran atau ancaman semacam itu. Menurut Veronika, pihak sekolah hanya melakukan pengumpulan siswa usai jam pelajaran untuk menyampaikan informasi mengenai kewajiban pembayaran kepada orang tua. Proses pemberitahuan ini dilakukan secara rutin.
"Itu yang kami kroscek ke sekolah apakah ada, misalnya kita ini budaya Flores ini usir (karena) uang sekolah, itu yang kami tanyakan ke pihak sekolah apakah ada begitu. Tetapi jawaban pihak sekolah, itu bersifat informasi," terang Veronika.
Kasus ini menyisakan duka mendalam dan menjadi pengingat keras tentang kompleksnya persoalan yang dihadapi anak-anak dari keluarga rentan. Di balik angka cicilan yang terlihat formal, tersimpan beban psikologis yang mungkin tidak terdeteksi, terutama pada anak yang berada dalam situasi tekanan ekonomi yang mencekik.
Artikel Terkait
Korlantas Tinjau Kesiapan Rest Area Tol Jelang Puncak Mudik Lebaran 2026
Presiden Prabowo Minta Maaf Tak Bisa Jemput PM Australia di Bandara
Satgas Pangan Perketat Pengawasan Harga dan Mutu Jelang Hari Besar Keagamaan
Pemerintah Kaji Cadangan Pangan Siap Santap untuk Tanggap Darurat Bencana