Maman S. Mahayana Bongkar Alasan Tolak Keras Denny JA di Ajang BRICS, Apa yang Dikhawatirkan?

- Selasa, 28 Oktober 2025 | 10:25 WIB
Maman S. Mahayana Bongkar Alasan Tolak Keras Denny JA di Ajang BRICS, Apa yang Dikhawatirkan?

Maman S. Mahayana Tolak Denny JA Jadi Kandidat Penghargaan Sastra BRICS

Kritikus sastra Maman S. Mahayana secara terbuka menolak tiga nama untuk diajukan sebagai kandidat penerima Penghargaan Sastra BRICS 2025. Ketiga nama yang ditolak tersebut adalah Denny JA, Iksaka Banu, dan Intan Paramaditha.

Maman menyatakan bahwa masih banyak nama lain yang lebih layak untuk dinominasikan sebagai calon penerima BRICS Literature Award. Pernyataan penolakan ini disampaikan melalui keterangan resmi yang diterima media pada Minggu, 26 Oktober 2025.

Transparansi dalam Seleksi Kandidat

Maman menekankan pentingnya transparansi dalam proses pemilihan kandidat. Ia meminta agar proses penentuan nama-nama yang diusulkan, kriteria pemilihan, dan pertanggungjawaban Dewan Juri disampaikan secara terbuka kepada publik.

"Proses penentuan nama-nama, kriteria pemilihan-penentuan nama-nama yang layak dinominasikan, dan pertanggungjawaban Dewan Juri perlu disampaikan secara transparan dan terbuka kepada publik," tegas Maman.

Latar Belakang BRICS dan Indonesia

BRICS merupakan kelompok negara berkembang yang memiliki peran besar dalam perekonomian global. Singkatan dari Brazil, Rusia, India, China, dan South Africa, BRICS didirikan pada 16 Juli 2009. Kelompok ini menjadi simbol kekuatan ekonomi baru sebagai penyeimbang dominasi negara Barat.

Indonesia resmi bergabung dengan BRICS pada 6 Januari 2025, bersama dengan Mesir, Ethiopia, Iran, dan Uni Emirat Arab. Langkah ini menandai strategi Indonesia untuk memperluas pengaruh dalam ekonomi global.

Proses Seleksi yang Dipertanyakan

Maman yang ditunjuk sebagai juri mewakili Indonesia mengungkapkan kekhawatirannya mengenai proses seleksi. Ia mengaku terkejut dengan daftar nama yang diusulkan, karena beberapa di antaranya belum akrab dengan kehidupan sastra Indonesia.

Kritikus sastra ini juga mempertanyakan dasar kriteria pemilihan dan kapasitas serta otoritas pihak yang memilih nama-nama kandidat. Menurutnya, pertanggungjawaban moral, sosial, dan kultural kepada sastra, budaya, dan bangsa Indonesia harus menjadi prioritas.

Perkembangan Kandidat yang Berubah

Proses seleksi menunjukkan dinamika yang menimbulkan tanda tanya. Awalnya hanya dua nama yang diusulkan untuk Indonesia, yaitu Iksaka Banu dan Intan Paramaditha. Namun kemudian muncul tambahan nama Denny JA tanpa penjelasan yang jelas.

Perubahan ini, menurut Maman, menunjukkan adanya sesuatu yang dapat memantik kontroversi tidak produktif. Ia menegaskan bahwa penentuan kandidat untuk penghargaan sastra BRICS bukan persoalan sederhana karena mewakili bangsa besar yang heterogen.

Komentar