Adi juga mengingatkan bahwa Indonesia pernah memiliki Presiden Abdurrahman Wahid (Gus Dur) yang lahir dalam keluarga besar Pesantren Tebu Ireng. Begitu pula Wakil Presiden Prof. Dr. KH Ma'ruf Amin yang merupakan pengasuh Pondok Pesantren An-Nawawi Tanara, Serang, Banten.
"20-30 tahun belakangan ini, alumni pesantren bukan hanya menjadi cendekiawan dan ulama, tapi telah begitu banyak menjadi pejabat-pejabat penting," tegasnya.
Tanggapan atas Kontroversi Pesantren
Pernyataan Adi ini muncul di tengah kontroversi tayangan salah satu televisi swasta yang menuding tradisi pesantren mengarah pada praktik feodalisme. Tayangan tersebut memicu kemarahan luas di kalangan santri, kiai, dan pesantren di Indonesia.
Sebagai alumni pesantren, Adi mengaku telah memberikan pembelaan signifikan terhadap tradisi dan budaya pesantren. Namun, ia memilih tidak memperpanjang perdebatan soal kontroversi tersebut.
"Pesantren adalah tempat yang nyaman untuk menumbuhkan kapasitas, kompetensi, kemampuan intelektualisme, termasuk bagaimana berlatih untuk menjadi calon-calon pemimpin di negara kita," pungkas Adi.
Menurutnya, pesantren telah terbukti menjadi lokomotif yang melahirkan sosok-sosok berkiprah strategis dan penting bagi Indonesia, baik di bidang keagamaan, akademis, maupun pemerintahan.
Artikel Terkait
Bumi Memanas Lebih Cepat, KLHK Buru-buru Tinjau Ulang Tata Ruang
Kematian di Tangan ICE: Krisis Kepercayaan dan Gelombang Protes yang Mengguncang Amerika
John Sitorus Sindir Siti Nurbaya Usai Rumahnya Digeledah: Gabung Saja ke PSI
Brian Yuliarto Buka Kartu: Kampus dan Industri Harus Jalin Kolaborasi Nyata untuk Pacu Ekonomi