Sebagai respons, pemerintah Venezuela mengecam keras pernyataan Trump tersebut. Mereka menyebutnya sebagai pelanggaran berat terhadap hukum internasional.
Sebelumnya, pada Agustus, militer AS telah mengerahkan armada besar ke Karibia, termasuk tiga kapal perusak (destroyer), satu kapal serbu amfibi, dan satu kapal selam nuklir, yang didukung oleh hampir 4.500 marinir. Operasi ini juga diklaim untuk memerangi aktivitas narkoba yang diduga bersumber dari Venezuela.
Presiden Venezuela, Nicolas Maduro, dan pejabat tinggi negaranya lainnya dengan tegas membantah semua tuduhan yang dilayangkan AS. Maduro menegaskan bahwa isu narkoba hanyalah dalih yang digunakan Presiden Trump untuk membenarkan serangan terhadap kedaulatan Venezuela.
Menghadapi ancaman ini, Venezuela tidak tinggal diam. Maduro mengerahkan sekitar 25.000 personel militer untuk memperkuat penjagaan di perbatasan, termasuk di wilayah laut, guna mengantisipasi segala kemungkinan di tengah meningkatnya ketegangan.
Artikel Terkait
Vinicius dan Camavinga Santai Berbincang Usai Prancis Kalahkan Brasil
Macet Parah Landa Tanjung Bunga Imbas Pensi Smansa 2026 yang Dihadiri Ribuan Penonton
Timnas Indonesia Hancurkan Saint Kitts dan Nevis 4-0, Lolos ke Final FIFA Series 2026
Gubernur Sulsel Bahas Kerja Sama Pendidikan dan Investasi dengan Pejabat AS