Ribuan orang memadati pusat kota London pada Sabtu (18/7/2026) dalam aksi protes menentang perang Israel di Gaza. Mereka mendesak calon perdana menteri Inggris, Andy Burnham, untuk segera memberlakukan embargo senjata terhadap Israel dan mengakhiri pengepungan yang telah menewaskan lebih dari 73.000 warga Palestina sejak Oktober 2023.
Burnham, pemimpin Partai Buruh, dijadwalkan resmi menjabat sebagai perdana menteri pada Senin (20/7/2026), menggantikan Keir Starmer. Partai Buruh di bawah kepemimpinan Starmer sebelumnya mendapat kecaman karena terus memasok senjata ke Israel meskipun bukti kejahatan perang semakin kuat. Para kritikus menilai langkah yang diambil hanya bersifat simbolis, seperti sanksi terhadap menteri sayap kanan Israel.
“Tiga tahun genosida yang terus berlanjut – dan gerakan untuk keadilan dan akuntabilitas, di Inggris dan di seluruh dunia, semakin lantang dan kuat,” kata Husam Zomlot, duta besar Palestina untuk Inggris, dalam unggahan di media sosial. Zomlot turun langsung memimpin pawai, meneriakkan slogan dan membawa plakat dukungan untuk Palestina.
Mantan pemimpin Partai Buruh, Jeremy Corbyn, yang diusir dari partai oleh Starmer, juga hadir dalam aksi tersebut. Corbyn mendesak Burnham untuk mengakhiri apa yang ia sebut sebagai keterlibatan Inggris dalam genosida.
Burnham menghadapi sejumlah tantangan berat sebagai perdana menteri, mulai dari krisis biaya hidup, utang mahasiswa yang membengkak, kekurangan perumahan terjangkau, hingga eksodus anggota partai akibat respons Partai Buruh yang dianggap kurang memuaskan terhadap situasi di Gaza.
Artikel Terkait
Dukung Spanyol di Final Piala Dunia 2026, Warga Gaza Berharap pada Lamine Yamal
Serangan Israel di Gaza Tewaskan 10 Orang, Termasuk Tiga Anak dan Orang Tua
Israel Klaim Tewaskan Komandan Hamas di Gaza Selatan
Drone Israel Bombardir Prosesi Pemakaman di Gaza, 7 Tewas