Empat personel Angkatan Laut Kuwait menderita luka-luka setelah kapal mereka menjadi sasaran serangan Iran di Selat Hormuz pada Selasa (14/7). Insiden ini menjadi bagian dari gelombang agresi Iran yang menargetkan fasilitas vital dan sipil di beberapa titik di Kuwait.
Juru Bicara Angkatan Bersenjata Kuwait, Kolonel Saud Abdulaziz Al-Atwan, mengonfirmasi bahwa serangan tersebut menyebabkan kerusakan material. "Salah satu kapal milik AL Kuwait juga jadi target, akibatnya ada empat orang personel terluka," ujarnya dalam pernyataan yang dikutip AFP, Rabu (15/7).
Ketegangan di Selat Hormuz kembali memanas setelah Presiden AS Donald Trump menyatakan gencatan senjata kedua negara resmi berakhir pekan lalu. Meski demikian, Trump masih membuka peluang perundingan baru. Di sisi lain, Ketua Parlemen Iran Mohammad Baqer Ghalibaf menegaskan kesiapan negaranya menghadapi kemungkinan serangan AS. "Era sepihak sudah berakhir. Sudah kami bilang: tepati janji atau tanggung akibatnya. Kenyataan sedang menghampiri," kata Ghalibaf.
Garda Revolusi Iran menyatakan satu-satunya cara memulihkan jalur pelayaran di Selat Hormuz adalah menghentikan intervensi AS di kawasan tersebut. "Kami peringatkan intervensi yang berlanjut dapat memicu insiden besar terhadap sektor minyak dan gas global," demikian pernyataan Garda Revolusi.
Artikel Terkait
Kapal Angkatan Laut Kuwait Terkena Serangan Rudal Iran, Empat Awak Luka
Dua Pelaut India Tewas dalam Serangan di Selat Hormuz, IMO Kecam Keras
Trump Umumkan Tarif 20% untuk Kargo yang Melintasi Selat Hormuz saat Blokade
AS Desak Iran Akui Kesalahan dan Hentikan Serangan di Selat Hormuz