Di Tengah Perang dan Blokade, Lulusan Gaza Berjuang Melawan Pengangguran

- Jumat, 10 Juli 2026 | 22:00 WIB
Di Tengah Perang dan Blokade, Lulusan Gaza Berjuang Melawan Pengangguran

Rawan al-Jabali duduk di kamp pengungsian Nuseirat, menatap layar laptop dengan koneksi internet yang lemah. Ia mencoba membuka tautan lowongan kerja, berharap ada peluang di tengah keterbatasan. Seperti banyak lulusan lain di Gaza, perjalanannya mencari pekerjaan terasa mustahil.

Dua tahun lalu, Rawan menyelesaikan gelar bahasa dan sastra Inggris dengan fokus penerjemahan di Universitas Islam Gaza. Namun sejak itu, ia hanya menemukan jalan buntu. Perang genosida Israel yang terus berlangsung memaksanya pindah dari Gaza utara ke Nuseirat bersama keluarganya, dan peluang kerja yang ia impikan sirna.

"Saya belajar penerjemahan karena percaya akan ada peluang di bidang ini, tetapi setelah perang, sebagian besar lembaga tempat saya bisa bekerja hilang," kata Rawan kepada Al Jazeera.

Rawan adalah satu dari 80 persen warga Palestina di Gaza yang menganggur, menurut Kantor Media Pemerintah. Pengangguran yang dipicu perang dan ekonomi yang sudah terpuruk sebelumnya telah mendorong tingkat kemiskinan di Gaza melampaui 93 persen. Meski lelah akibat pemadaman listrik, internet lemah, dan kesulitan bergerak, Rawan terus bertahan. Ia harus mencari cara untuk menghidupi diri dan keluarganya.

Nasib serupa dialami Mohammed al-Khudari, juga lulusan Universitas Islam Gaza, namun di bidang teknik. Hari kelulusan yang seharusnya menjadi awal baru berubah menjadi perjuangan panjang tanpa hasil. Perang dengan pemboman, penutupan perbatasan, dan kelaparan telah menghentikan pasar tenaga kerja. Al-Khudari menghabiskan sebagian besar waktunya menjelajahi iklan lowongan di ponsel.

"Saya menghabiskan waktu berjam-jam mencari peluang kerja, dan menghadapi kesulitan mengisi daya ponsel atau sekadar terhubung ke internet, tetapi saya terus mencoba," ujarnya.

Pencarian yang tak membuahkan hasil memaksanya tidak lagi pilih-pilih. Meski berlatar belakang teknik, ia melamar pekerjaan di kafe, restoran, hingga pekerjaan pembersihan. "Tujuan utama saya sekarang adalah mengamankan pendapatan untuk menghidupi diri dan keluarga, membangun awal baru," katanya. "Banyak lulusan melamar pekerjaan apa pun yang tersedia karena keadaan mendesak, bukan menunggu pekerjaan sesuai spesialisasi."

Masalah Menahun yang Semakin Parah

Krisis pengangguran di Gaza tak terpisahkan dari masalah ekonomi yang lebih luas. Data menunjukkan produk domestik bruto (PDB) Gaza menyusut lebih dari 82 persen akibat perang yang dimulai Oktober 2023, di mana Israel telah membunuh lebih dari 73.000 warga Palestina. Blokade Israel membuat sekitar 80 persen penduduk bergantung pada bantuan kemanusiaan internasional, di tengah penurunan pendapatan dan kelaparan.

Pakar ekonomi Palestina Mohammed Abu Jeiab menjelaskan bahwa pasar tenaga kerja Gaza sudah bermasalah sebelum perang, akibat blokade Israel sejak 2007. Perang hanya memperparah keadaan. "Kemerosotan ini menyebabkan konsekuensi serius: pengikisan modal manusia karena pengangguran berkepanjangan, hilangnya keterampilan, peningkatan ketergantungan pada bantuan, kemiskinan, keterlambatan stabilitas sosial, dan potensi emigrasi pekerja terampil," paparnya.

Abu Jeiab menekankan perlunya rencana komprehensif: rekonstruksi sebagai pendorong utama penciptaan lapangan kerja, dukungan bagi usaha kecil dan kewirausahaan, investasi teknologi dan kerja jarak jauh, penyesuaian pendidikan universitas dengan kebutuhan pasar, serta program pelatihan berbayar. Namun, Gaza saat ini kekurangan pemerintahan yang berfungsi penuh, masih menghadapi serangan Israel meski ada gencatan senjata Oktober, dan rekonstruksi nyaris tidak ada. Akibatnya, peluang kerja tetap langka.

Di tengah situasi sulit, muncul inisiatif komunitas yang membantu kaum muda mencari pekerjaan. Salah satunya Peace Work Space di Deir el-Balah, yang menyediakan lingkungan kerja dengan listrik dan internet yang lebih andal. Pendirinya, Mohammed al-Buheisi, membuka ruang tersebut pada Februari 2024 sebagai respons terhadap kebutuhan warga Palestina yang terusir.

"Kami mulai dengan ruang kecil untuk 10 orang, dan kini diperluas hingga menampung sekitar 80 orang," kata al-Buheisi. "Tujuan kami menyediakan lingkungan yang membantu mahasiswa dan lulusan melanjutkan studi dan pekerjaan dengan sarana terbaik." Internet dan listrik yang andal di ruang itu menjadi berkah bagi pencari kerja, pekerja jarak jauh, dan mereka yang mengikuti ujian daring.

Di tengah penurunan peluang kerja, penyusutan ekonomi, dan kesenjangan antara pendidikan dan pasar tenaga kerja, ribuan lulusan Palestina berada dalam fase transisi tanpa jalur profesional yang jelas. "Berinvestasi dalam keterampilan teknis adalah cara paling berkelanjutan untuk menciptakan lapangan kerja," kata al-Buheisi. "Penting untuk fokus pada pelatihan dan pemberdayaan kaum muda agar bisa meraih pendapatan secara daring, bukan hanya mengandalkan peluang lokal yang terbatas."

Editor: Redaksi MuriaNetwork

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags