Seorang sopir truk asal Palestina yang mengangkut bantuan pangan dari organisasi World Central Kitchen (WCK) ke Jalur Gaza tewas ditembak oleh tentara Israel. Saksi mata menyebut insiden itu sebagai eksekusi di tempat. Peristiwa ini memicu kemarahan dan mendorong Asosiasi Perusahaan Angkutan Truk di Gaza untuk mempertimbangkan penghentian seluruh operasi sebagai bentuk protes.
Ahmad Esleem, 30 tahun, ditembak tepat di kepala pada Rabu saat konvoi empat truk bantuan berhenti karena salah satu kendaraan mengalami kerusakan di Koridor Philadelphi, jalur militer di perbatasan selatan Gaza. Menurut kesaksian rekan sopir, Diaa Mansour, tentara Israel memerintahkan para sopir turun dan kemudian menembak Esleem ketika kedua tangannya terangkat.
“Setelah truk rusak, kami menunggu izin untuk turun memeriksanya karena setiap gerakan harus dikoordinasikan. Saat menunggu, kendaraan militer Israel datang. Tentara memerintahkan saya dan Ahmad turun, lalu menyuruh sopir lain, Alaa Shaat, juga turun. Sopir di truk paling depan tetap di dalam,” kata Mansour. Ia menambahkan bahwa mereka dipaksa melepas pakaian dan duduk di bawah terik matahari sebelum Esleem ditembak.
Jihad Esleem, Wakil Ketua Asosiasi Perusahaan Angkutan Gaza sekaligus kerabat korban, menegaskan bahwa konvoi telah dikoordinasikan dengan Program Pangan Dunia PBB (WFP) dan WCK. “Seorang perwira Israel bersama beberapa tentara mendatangi para sopir, menanyakan alasan keberadaan mereka, lalu memerintahkan semua turun. Mereka memukul dan memaksa para sopir menanggalkan pakaian. Saat Ahmad mengangkat kedua tangan sebagai tanda menyerah, seorang tentara mengeluarkan senapan M16 dan langsung menembak kepalanya. Ini adalah eksekusi di tempat dan pembunuhan yang disengaja terhadap seorang sopir sipil yang telah mematuhi seluruh instruksi,” ujarnya.
Pihak perusahaan tempat Esleem bekerja, Iyad Qamri Trading and Public Transport Company, membenarkan bahwa ia ditembak dari jarak dekat. Dokumentasi foto jenazah memperlihatkan luka tembak serius di kepala. Esleem meninggalkan istri dan dua anak balita, termasuk bayi berusia satu bulan.
Dampak psikologis langsung terasa: lima sopir dari perusahaan yang sama mengundurkan diri. “Mereka menyatakan tidak akan pernah lagi bekerja di perlintasan itu dalam keadaan apa pun,” kata Eyad Esleem, pemilik perusahaan.
Versi Berbeda dari IDF
Militer Israel (IDF) mengonfirmasi insiden penembakan, namun memberikan kronologi yang bertolak belakang. Juru bicara IDF menyatakan bahwa tiga sopir truk bantuan berhenti di Koridor Philadelphi dan keluar dari kendaraan “bertentangan dengan prosedur”. Saat pasukan mengamankan mereka, seorang sopir dari truk lain berlari ke arah tentara. “Pasukan menjalankan prosedur penangkapan dan setelah menganggap terdapat ancaman langsung, mereka melepaskan tembakan,” klaim IDF. Mereka menyebut sopir itu hanya terluka dan telah mendapat pertolongan pertama. Insiden sedang diselidiki secara internal.
Jihad Esleem membantah versi IDF. “Ahmad mengenakan rompi keselamatan oranye dan membawa seluruh izin serta dokumen koordinasi yang disetujui IDF,” katanya.
Pekerjaan Berbahaya dan Insiden Berulang
Profesi sopir truk bantuan di Gaza kini diakui sebagai salah satu yang paling berisiko. Perusahaan angkutan swasta rutin disewa PBB dan lembaga kemanusiaan untuk mengangkut pasokan makanan, namun situasi tetap mencekam meski ada gencatan senjata parsial sejak Oktober. Tentara Israel masih menguasai lebih dari 60 persen wilayah Gaza.
Kasus serupa bukan pertama kali. Pada 21 Mei, dua sopir Palestina, Muhammad al-Heela dan Mahmoud Awad, ditembak setelah dibebaskan dari tahanan Israel. IDF mengklaim jalur mereka tidak dikoordinasikan, namun Jihad Esleem membantah. Sebulan sebelumnya, tentara Israel menembak mati dua sopir UNICEF saat mengisi truk air di titik distribusi resmi. IDF hanya beralasan adanya ancaman.
Tragedi besar juga terjadi pada April 2024, ketika tujuh pekerja WCK tewas dalam serangan udara Israel di Gaza selatan. Para korban berasal dari Inggris, Australia, Polandia, Palestina, dan seorang warga negara ganda AS-Kanada.
Ancaman dan Rapat Darurat
Jihad Esleem mengungkapkan bahwa para sopir setiap hari mengalami intimidasi di pos pemeriksaan: dipukul, dihina, dipaksa berdiri berjam-jam. Setelah penembakan, tentara pelaku mengancam tiga sopir yang selamat dengan nasib serupa. “Ini bukti bahwa penembakan itu disengaja,” ujarnya.
Asosiasi Perusahaan Angkutan Gaza akan mengadakan rapat darurat pada Jumat untuk membahas penghentian operasi di Perlintasan Kerem Shalom. “Semua orang harus memahami bahwa sopir truk Palestina adalah mata rantai terpenting dan titik kontak pertama antara Israel dan Gaza. Mereka tidak boleh dihalangi,” kata Esleem. Ia juga menyoroti tekanan psikologis akibat dipaksa menyelundupkan barang terlarang seperti rokok oleh oknum tentara atau pedagang hitam. “Saya meminta IDF bertanggung jawab. Para sopir tidak memiliki peran dalam penyelundupan.”
Artikel Terkait
Gagal Bunuh Juru Bicara Hamas, Serangan Drone Israel Tewaskan Pengawal dan Warga Sipil
Relawan Bantuan Gaza Tewas Sesaat Sebelum Piala Dunia, Pelatih Mesir Bersuara
Hamas Bubarkan Pemerintahan di Gaza, Serahkan Kekuasaan ke Komite Teknokrat
Hamas Bubarkan Badan Pemerintahan Gaza, Buka Jalan bagi Komite Teknokrat