Munculnya dorongan agar Gibran Rakabuming Raka maju sebagai calon presiden melawan Prabowo Subianto dinilai sebagai bentuk kepercayaan diri, kemuakan, sekaligus kepasrahan pendukung Gibran dan Presiden Joko Widodo. Fenomena ini mencerminkan dinamika politik menjelang Pemilu 2029.
Kepercayaan diri itu muncul dari keyakinan bahwa Prabowo tidak akan berarti tanpa dukungan Jokowi dan Gibran. Menurut para loyalis, Prabowo menjadi presiden berkat popularitas Jokowi yang masih tinggi di mata rakyat. Sementara itu, kemuakan timbul karena Prabowo dinilai tidak memberikan peran yang cukup kepada Gibran dalam pemerintahannya. Kasus ijazah Jokowi yang berlarut-larut dan tidak ditahannya Roy Suryo serta Tifa dianggap sebagai bukti minimnya pengaruh Gibran di kabinet.
Kepasrahan juga meliputi keyakinan bahwa Prabowo tidak akan mempertahankan Gibran sebagai wakilnya pada periode kedua. Tidak hanya Prabowo, partai-partai lain pun dinilai tidak menginginkan duet tersebut berlanjut. Oleh karena itu, baik Gibran maupun Jokowi telah melakukan safari politik ke berbagai daerah sejak jauh-jauh hari sebagai langkah antisipasi.
Pilihan yang tersisa bagi Gibran dan Jokowi hanyalah memulai kampanye lebih awal. Jika tidak, nasib Gibran pada 2029 dikhawatirkan berakhir tragis: ditinggalkan partai-partai dan pemilih, hanya menyisakan relawan yang jumlahnya tidak signifikan.
Di sisi lain, program unggulan Prabowo yang dianggap bermasalah bisa menjadi peluang bagi Gibran. Namun, langkah-langkah yang diambil Prabowo sejauh ini dinilai tidak menguntungkan Jokowi. Misalnya, pemangkasan BUMN hingga 700 perusahaan dan ambil alih lahan seluas 6 juta hektar dianggap sebagai upaya Prabowo meluruskan arah bangsa yang selama ini salah.
Dorongan agar Gibran maju sebagai capres dan blusukan Jokowi ke seluruh Indonesia justru dianggap menguntungkan Prabowo dan partai lain. Di satu sisi, Prabowo tidak perlu lagi memilih karena Gibran dan Jokowi telah menentukan pilihan. Di sisi lain, akan teruji apakah penerimaan terhadap Jokowi masih besar di lapangan atau hanya di atas kertas. Seperti kata pepatah, pisang tak akan berbuah dua kali.
Artikel Terkait
Hari Purwanto Dukung Rencana Prabowo Pangkas BUMN, Singgung Pemborosan Era Erick Thohir
PM Singapura Lawrence Wong Temui Prabowo di Jakarta, Bahas Kerja Sama Bilateral
Dari Oposisi ke Kekuasaan: Inkonsistensi Prabowo dalam Gaya Pemerintahan
Aziz Yanuar Dukung Penuh Perpres Prabowo yang Masukkan LGBTQ sebagai Ancaman Nonmiliter