Jasad Para Tokoh Alawiyin Bertahun-tahun Menunggu Dikuburkan

- Minggu, 05 Juli 2026 | 15:40 WIB
Jasad Para Tokoh Alawiyin Bertahun-tahun Menunggu Dikuburkan

Sejarah Islam mencatat sejumlah tokoh yang jenazahnya baru dimakamkan bertahun-tahun setelah wafat, termasuk di kalangan Alawiyin, zuriah Imam Ali. Kisah-kisah ini terabadikan dalam berbagai sumber klasik, menunjukkan bahwa penundaan penguburan bukanlah fenomena baru.

Syarif Yahya bin Zaid adalah salah satu contoh paling ekstrem. Ia disalib di pintu kota al-Juzjan sejak hari wafatnya dan terus tergantung hingga pasukan Abbasiyah tiba. Abu al-Faraj al-Isfahani dalam Maqatil al-Talibiyyin menulis, "Ia terus tersalib sampai ketika datang al-Musawwidah, mereka menurunkannya, memandikannya, mengafaninya, memberinya hanuth, kemudian menguburkannya."

Lamanya penantian bervariasi. Abdullah bin Atha, seorang perawi tepercaya yang diriwayatkan Imam Malik, wafat dalam persembunyian lalu jasadnya disalib. Ia baru dikubur setelah tiga hari. Al-Isfahani menuturkan, "Ia memerintahkan agar diturunkan dari kayu salibnya setelah tiga hari, lalu diturunkan dan dikubur."

Washif al-Khadim menunggu jauh lebih lama. Wafat pada 289 H, tubuhnya dilumuri sabir lalu disalib di jembatan Baghdad. Ajaibnya, jasadnya tidak membusuk dan bertahan sekitar sebelas tahun hingga 300 H. Al-Mas'udi dalam Muruj al-Dzahab mencatat, "Maka ia tetap tersalib di jembatan tanpa membusuk sampai tahun 300 pada masa kekhalifahan al-Muqtadir billah."

Ahmad bin Nashr al-Khuza'i mengalami nasib lebih tragis: kepalanya terpancang di Baghdad sementara jasadnya tersalib di Samarra selama enam tahun. Ibn al-Jauzi dalam al-Muntazham menulis, "Kepala Ahmad bin Nashr terus terpancang di Baghdad dan jasadnya tersalib di Samarra selama enam tahun sampai diturunkan, lalu kepala dan badannya disatukan, dan ia dikubur."

Pola serupa berlanjut hingga era Fatimiyah di Mesir. Nasr bin Abbas disalib di pintu gerbang Bab Zuwailah dan tetap tergantung dari Rabiul Awwal 550 H hingga hari Asyura 551 H. Al-Dzahabi dalam Tarikh al-Islam menutup, "Ia tetap tersalib sampai hari Asyura tahun lima puluh satu."

Pertanyaan tentang boleh tidaknya menunda penguburan mayat sebenarnya sudah terjawab oleh tumpukan catatan sejarah ini, mulai dari tiga hari hingga sebelas tahun. Ketika saat ini jenazah seorang tokoh besar baru dikebumikan berbulan setelah wafatnya, sejarah Islam telah mencatat jeda yang jauh lebih panjang dengan sebab yang berbeda-beda. Wallahu a'lam.

Editor: Agus Setiawan

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags