Spanyol Juara Piala Dunia 2026, Warisan Islam Andalusia Kembali Menyita Perhatian

- Senin, 20 Juli 2026 | 17:25 WIB
Spanyol Juara Piala Dunia 2026, Warisan Islam Andalusia Kembali Menyita Perhatian

Spanyol dinobatkan sebagai juara Piala Dunia 2026 setelah menundukkan Argentina melalui perpanjangan waktu di Stadion New York/New Jersey pada Ahad, 19 Juli 2026. Sorak-sorai La Roja menggema ke seluruh penjuru bumi, menegaskan bahwa Spanyol selalu memiliki cara untuk mencuri perhatian global. Namun daya pikat negeri ini tidak hanya datang dari sepak bola, melainkan juga dari bentangan sejarah panjang yang jauh lebih tua daripada sekadar piala emas.

Jauh sebelum era Ferran Torres atau Lamine Yamal, Spanyol menjadi panggung peradaban paling gemilang dalam sejarah Islam. Masa kejayaan Islam di Andalusia berlangsung hampir delapan abad dan meninggalkan jejak monumental yang masih dapat disaksikan hingga kini. Kisah agung ini bermula pada 711 Masehi saat pasukan Muslim di bawah komando Thariq bin Ziyad menyeberangi selat sempit yang kini dinamai Selat Gibraltar berasal dari istilah Jabal Thariq. Dalam waktu singkat, sebagian besar Semenanjung Iberia berada di bawah naungan Islam dengan nama Al-Andalus.

Keistimewaan Andalusia tidak hanya terletak pada kemenangan militernya, melainkan pada kebudayaan luhur yang tumbuh setelahnya. Kordoba yang menjadi ibu kota Kekhalifahan Umayyah pada abad ke-10 berkembang menjadi salah satu kota termaju di dunia. Saat sebagian besar Eropa masih terperangkap dalam kegelapan Abad Pertengahan, Kordoba telah memiliki jalanan beraspal dengan penerangan lampu, perpustakaan berisi ratusan ribu jilid buku, serta fasilitas pemandian umum di berbagai penjuru kota.

Warisan Arsitektur yang Masih Berdiri Kokoh

Saksi bisu paling megah dari masa emas ini adalah Masjid Agung Kordoba yang kini dikenal sebagai Mezquita-Catedral de Córdoba. Bangunan yang dirintis oleh Abdurrahman I ini dipenuhi deretan lengkungan tapal kuda merah-putih di atas ratusan pilar yang menciptakan efek ruang tanpa batas. Pasca-Reconquista pada abad ke-13, bangunan ini dialihfungsikan menjadi katedral, tetapi struktur asli masjidnya tetap dipertahankan hingga menyajikan perpaduan dua peradaban dalam satu atap.

Di Granada, jejak kejayaan itu terwujud dalam Kompleks Istana Alhambra yang dibangun oleh Kesultanan Nasrid. Alhambra merupakan mahakarya arsitektur yang memadukan estetika, teknik pengairan canggih, serta ornamen kaligrafi Arab pada dinding-dindingnya. Larik ayat Al-Qur'an dan bait puisi menyatu harmonis dengan pola geometris arabesque yang memikat jutaan wisatawan setiap tahun. Sementara itu di Sevilla, Menara La Giralda yang berdiri tegak di samping Katedral Sevilla sejatinya merupakan bekas menara masjid dari era Kesultanan Muwahhidun. Kehadiran bangunan ini membuktikan bahwa jejak peradaban Islam tersebar luas di kawasan selatan Spanyol.

Lebih dari Sekadar Bangunan

Peradaban Andalusia menyumbangkan kontribusi raksasa bagi perkembangan ilmu pengetahuan. Para cendekiawan Muslim menerjemahkan serta mengembangkan karya-karya Yunani kuno, sekaligus melahirkan pemikir besar seperti Ibnu Rusyd (Averroes) yang pemikirannya memicu arus Renaissance di Eropa. Bidang astronomi, kedokteran, dan matematika berkembang pesat berkat sistem pendidikan terbuka yang menjamin kebebasan belajar bagi umat Yahudi dan Kristen dalam suasana toleran. Jejak kebudayaan tersebut juga membekas kuat pada bahasa lokal. Banyak kosakata bahasa Spanyol modern berakar dari bahasa Arab, serta sistem irigasi pertanian yang diperkenalkan kala itu masih digunakan hingga sekarang.

Kejayaan Andalusia perlahan meredup seiring gelombang Reconquista hingga berakhir sepenuhnya pada 1492 dengan jatuhnya Granada. Kendati kekuasaan politiknya telah usai, warisan intelektual dan kebudayaannya tidak pernah runtuh.

Ketika Layar Lebar Membawa Kita ke Andalusia

Bagi publik Indonesia, kesadaran atas jejak Islam di Eropa salah satunya dipopulerkan melalui film 99 Cahaya di Langit Eropa karya Hanum Salsabiela Rais dan Rangga Almahendra. Film tersebut mengisahkan perjalanan menelusuri peninggalan Islam di Benua Biru dan merefleksikan bagaimana simbol-simbol Islam kini berbaur di antara bangunan bersejarah. Karya sinema ini menyajikan Andalusia sebagai perjalanan emosional tentang pasang surut sebuah peradaban besar. Kepopuleran film tersebut turut mendorong tren wisata religi umat Islam Indonesia ke Kordoba, Granada, dan Sevilla.

Hingga hari ini, siapa pun yang menyusuri lorong tua di Kordoba akan merasakan bahwa denyut masa lalu itu tetap hidup pada ukiran batu dan jernihnya air mancur. Bagi umat Islam modern, Andalusia bukanlah sekadar memori sejarah atau destinasi wisata. Ia merupakan pengingat bahwa kejayaan lahir dari tradisi keilmuan, kebebasan berpikir, serta sikap toleransi yang melampaui zaman.

Editor: Novita Rachma

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags