Wafatnya Mbah Rudipah, perajin caping kalo asal Desa Gulang, Kecamatan Mejobo, Kabupaten Kudus, Jawa Tengah, menyisakan kekhawatiran akan punahnya kerajinan tradisional tersebut. Semakin sedikit warga yang mau dan mampu menjadi perajin caping kalo, sehingga regenerasi pengrajin terancam.
Mbah Rudipah meninggal pada Selasa (26/5) di usia 74 tahun. Semasa hidupnya, ia dikenal sebagai perajin caping kalo yang terampil. Caping kalo merupakan penutup kepala tradisional khas Kudus dengan anyaman rumit, biasanya digunakan dalam acara seremonial, kegiatan wisata, dan pertunjukan tari.
Kamto, rekan sesama perajin caping kalo, mengenang Mbah Rudipah sebagai sosok yang sangat pandai membuat atasan caping kalo dengan hasil rapi. "Saya rekan kerja beliau, kami bersama-sama bikin caping kalo. Beliau itu pandai kalau bikin atasan caping kalo, hasilnya rapi," katanya, Kamis (2/7).
Menurut Kamto, tidak ada anggota keluarga Mbah Rudipah yang melanjutkan keahliannya. Proses pembuatan caping kalo memang tidak mudah. Dalam sepekan, seorang perajin biasanya hanya mampu menghasilkan dua caping kalo. "Sepeninggal beliau memang tidak ada generasi yang melanjutkan. Termasuk anak beliau tidak ada yang melanjutkan," terangnya.
Kamto menjelaskan, pembuatan caping kalo memerlukan keterampilan khusus. Bahan baku harus menggunakan bambu apus, dan proses membelah serta menghaluskan bambu membutuhkan ketelitian. Sejak 2014, Kamto berkolaborasi dengan Mbah Rudipah. Keduanya mengerjakan caping kalo di rumah masing-masing sesuai pembagian tugas. Pembuatan caping kalo tidak dapat dikerjakan seorang diri, melainkan harus dengan berbagi peran.
Karya mereka sempat dipesan oleh Iriana Jokowi saat masih menjabat sebagai Ibu Negara pada 2022. "Bu Iriana Jokowi pernah pesan caping kalo ke kami untuk acara kirab bendera pusaka di tahun 2022 silam," ungkap Kamto.
Kini, Kamto menjadi satu-satunya perajin caping kalo di Desa Gulang. Pria berusia 57 tahun itu merupakan generasi keempat di keluarganya yang menekuni kerajinan ini. Keputusannya meneruskan profesi tersebut merupakan amanat sang ayah yang juga seorang perajin caping kalo. Setiap pagi sebelum berangkat bekerja sebagai tukang parkir di sebuah warung sate, Kamto menyempatkan diri membuat caping kalo. Prosesnya dilakukan secara bertahap karena tidak dapat diselesaikan dalam satu waktu.
Banyaknya komponen dalam caping kalo membuat proses pembuatannya memakan waktu lama. Bagian-bagian caping kalo meliputi rangkepan, jalon, rancangan haluan, gapit, dan iker-iker. "Rangkepan ini diratakan dulu. Kemudian diberi pola dan dikasih jalon dengan cara dirangkap. Setelah itu dirangkai menggunakan daun rembuyung. Prosesnya panjang, makanya sepekan hanya bisa dua produk," jelas Kamto.
Pembuatan caping kalo juga disesuaikan dengan kebutuhan pelanggan. Ukuran diameter untuk anak-anak 27 sentimeter, remaja 29 sentimeter, dan dewasa 32 sentimeter.
Tantangan menjadi perajin caping kalo tidak hanya pada proses produksi. Minimnya generasi penerus juga dipengaruhi tingginya biaya produksi. Satu caping kalo membutuhkan biaya sekitar Rp325 ribu. Harga jualnya sekitar Rp475 ribu, namun pembeli kerap menawar. Banyak yang memilih caping kalo KW atau tiruan yang lebih murah. "Hari ini saya buat, belum tentu besok ada yang membeli," ujar Kamto.
Sebagai salah satu perajin yang tersisa, Kamto berupaya mewariskan ilmunya melalui pelatihan. Namun, upaya tersebut belum berjalan maksimal. "Peserta pelatihan setelah selesai masa pelatihan tidak melanjutkan secara mandiri untuk membuat caping kalo. Seharusnya kan dilakukan kontinyu," lanjutnya.
Kamto berkomitmen melanjutkan tradisi membuat caping kalo agar kerajinan tersebut tetap lestari di Kota Kretek. "Saya akan tetap menjalankan nasihat ayah saya untuk melanjutkan membuat caping kalo. Upaya ini sekaligus melanjutkan tradisi dari bu Rudipah," imbuhnya.
Sejarawan Kudus, Edy Supratno, mengatakan jumlah pembuat caping kalo terus berkurang. Menurutnya, diperlukan keterlibatan serius dari pemerintah dan para pemangku kepentingan untuk menjaga keberlangsungan kerajinan tersebut. "Sehubungan semakin minimnya orang yang membuat caping kalo, membutuhkan keterlibatan serius pemangku kepentingan untuk mulai beralih dari peran manusia ke mesin," ucapnya.
Artikel Terkait
Kanker Amputasi Kaki Kiri, Suparman Bertahan Jadi Pak Ogah Demi Keluarga
MilkLife Soccer Challenge Tambah Tiga Kota pada Musim Depan